Minggu, 09 Januari 2011

METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

I. KONSEP DASAR
1.1 Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas
Dalam menjalankan tugasnya, secara ideal guru merupakan agen pembaharuan.
Sebagai agen pembaharuan, guru diharapkan selalu melakukan langkah-langkah inovatif
berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukannya.
Langkah inovatif sebagai bentuk perubahan paradigma guru tersebut dapat dilihat dari
pemahaman dan penerapan guru tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK sangat
mendukung program peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah yang muaranya adalah
peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini, karena dalam proses pembelajaran, guru adalah
praktisi dan teoretisi yang sangat menentukan. Peningkatan kualitas pembelajaran,
merupakan tuntutan logis dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(Ipteks) yang semakin pesat. Perkembangan Ipteks mengisyaratkan penyesuaian dan
peningkatan proses pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga berdampak positif
terhadap peningkatan kualitas lulusan dan keberadaan sekolah tempat guru itu mengajar.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peningkatan kompetensi guru merupakan
tanggung jawab moral bagi para guru di sekolah. Peningkatan kompetensi guru mencakup
empat jenis, yaitu (1) kompetensi pedagogi (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi
sosial, dan (4) kompetensi kepribadian. Berdasarkan UURI Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, dan UURI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, peningkatan
kompetensi guru menjadi isu strategis dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Bahkan
menurut PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tersebut pada pasal 31 ditegaskan, bahwa selain
kualifikasi, guru sebagai tenaga pendidik juga dituntut untuk memiliki sertifikat
kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkannya.
Upaya peningkatan keempat kompetensi merupakan upaya peningkatan
profesionalisme guru. Peningkatan profesionalisme dapat dicapai oleh guru dengan cara
melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara berkesinambungan. Praktik
pembelajaran melalui PTK dapat meningkatkan profesionalisme guru (Ahmar, 2005; Jones
& Song, 2005; Kirkey, 2005; McIntosh, 2005; McNeiff, 1992). Hal ini, karena PTK dapat
membantu (1) pengembangan kompetensi guru dalam menyelesaikan masalah3
pembelajaran mencakup kualitas isi, efisiensi, dan efektivitas pembelajaran, proses, dan
hasil belajar siswa, (2) peningkatan kemampuan pembelajaran akan berdampak pada
peningkatan kompetensi kepribadian, sosial, dan profesional guru (Prendergast, 2002).
Lewin (dalam Prendergast, 2002:2) secara tegas menyatakan, bahwa penelitian tindakan
kelas merupakan cara guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan
pengalamannya sendiri atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain. Sementara itu,
Calhoun dan Glanz (dalam Prendergast, 2002:2) menyatakan, bahwa penelitian tindakan
kelas merupakan suatu metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung
kinerja kreatif sekolah. Di samping itu, Prendergast (2002:3) juga menyatakan, bahwa
penelitian tindakan kelas merupakan wahana bagi guru untuk melakukan refleksi dan
tindakan secara sistematis dalam pengajarannya untuk memperbaiki proses dan hasil belajar
siswa. Cole dan Knowles (Prendergast (2002:3-4) menyatakan bahwa, penelitian tindakan
kelas dapat mengarahkan para guru untuk melakukan kolaborasi, refleksi, dan bertanya satu
dengan yang lain dengan tujuan tidak hanya tentang program dan metode mengajar, tetapi
juga membantu para guru mengembangkan hubungan-hubungan personal. Pernyataan
Knowles tersebut juga didukung oleh Noffke (Prendergast (2002:5), bahwa penelitian
tindakan kelas dapat mendorong para guru melakukan refleksi terhadap praktek
pembelajarannya untuk membangun pemahaman mendalam dan mengembangkan
hubungan-hubungan personal dan sosial antar guru. Whitehead (1993) menyatakan, bahwa
penelitian tindakan kelas dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan pemahaman
tentang pedagogi dalam rangka memperbaiki pemberlajarannya.
Penjelasan-penjelasan teoretis tersebut mengindikasikan, bahwa pemahaman dan
penerapan PTK akan membantu guru untuk mengembangkan keempat kompetensi yang
dipersyaratkan oleh UURI Nomor 14 Tahun 2005. PTK akan memfasilitasi guru untuk
meningkatkan kompetensi-kompetensi profesional, pedagogi, kepribadian, dan sosial.
Agar PTK tidak lepas dari tujuan perbaikan diri sendiri, maka sebelum seorang
Guru atau para Guru memulai merancang dan melaksanakan PTK, perlu memperhatikan
hal-hal berikut.
1. PTK adalah alat untuk memperbaiki atau menyempurnakan mutu pelaksanaan tugas
sehari-hari (mengajar yang mendidik), oleh karena itu hendaknya sedapat mungkin4
memilih metode atau model pembelajaran yang sesuai yang secara praktis tidak
mengganggu atau menghambat komitmen tugasnya sehari-hari.
2. Teknik pengumpulan data jangan sampai banyak menyita waktu, sehingga tugas utama
Guru tidak terbengkalai.
3. Metodologi penelitian hendaknya memberi kesempatan kepada Guru untuk
merumuskan hipotesis yang kuat, dan menentukan strategi yang cocok dengan suasana
dan keadaan kelas tempatnya mengajar.
4. Masalah yang diangkat hendaknya merupakan masalah yang dirasakan dan diangkat
dari wilayah tugasnya sendiri serta benar-benar merupakan masalah yang dapat
dipecahkan melalui PTK oleh Guru itu sendiri.
5. Sejauh mungkin, PTK dikembangkan ke arah meliputi ruang lingkup sekolah. Dalam
hal ini, seluruh staf sekolah diharapkan berpartisipasi dan berkontribusi, sehingga pada
gilirannya Guru-Guru lain ikut merasakan pentingnya penelitian tersebut. Jika
kepedulian seluruh staf berkembang, maka seluruh staf itu dapat bekerja sama untuk
menentukan masalah-masalah sekolah yang layak dan harus diteliti melalui PTK.
1.2 Pengertian PTK
Penelitian tindakan telah mulai berkembang sejak perang dunia kedua. Oleh sebab
itu, terdapat banyak pengertian tentang PTK. Istilah PTK dideferensiasi dari pengertian-
pengertian berikut.
Kemmis (1992): Action research as a form of self-reflective inquiry undertaken by
participants in a social (including educational) situation in order to improve the
rationality and justice of (a) their on social or educational practices, (b) their
understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are
carried out.
McNeiff (2002): action research is a term which refer to a practical way of looking
at your own work to sheck that it is you would like it to be. Because action research
is done by you, the practitioner, it is often referred to as practitioner based
research; and because it involves you thinking about and reflecting on your work, it
can also be called a form of self-reflective practice.5
Berdasarkan penjelasan Kemmis dan McNeiff tersebut, dapat dicermati pengertian
PTK secara lebih rinci dan lengkap. PTK didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang
bersifat reflektif oleh pelaku tindakan. Tindakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan
kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas sehari-hari,
memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki
kondisi di mana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan
tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam proses berdaur (cyclical) yang terdiri dari
empat tahapan, planing, action, observation/evaluation, dan reflection.
1.3 Karakteristik PTK
Karakteristik PTK yang sekaligus dapat membedakannya dengan penelitian formal
adalah sebagai berikut.
1. PTK merupakan prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi
masalah nyata yang dialami Guru berkaitan dengan siswa di kelas itu. Ini berarti, bahwa
rancangan penelitian diterapkan sepenuhnya di kelas itu, termasuk pengumpulan data,
analisis, penafsiran, pemaknaan, perolehan temuan, dan penerapan temuan. Semuanya
dilakukan di kelas dan dirasakan oleh kelas itu.
2. Metode PTK diterapkan secara kontekstual, dalam arti bahwa variabel-variabel yang
ditelaah selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri. Dengan demikian, temuan
hanya berlaku untuk kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas yang
lain. Temuan PTK hendaknya selalu diterapkan segera dan ditelaah kembali
efektivitasnya dalam kaitannya dengan keadaan dan suasana kelas itu.
3. PTK terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam arti
bahwa hasil atau temuan PTK itu adalah pada diri Guru telah terjadi perubahan,
perbaikan, atau peningkatan sikap dan perbuatannya. PTK akan lebih berhasil jika ada
kerja sama antara Guru-Guru di sekolah, sehingga mereka dapat sharing permasalahan,
dan apabila penelitian telah dilakukan, selalu diadakan pembahasan perencanaan
tindakan yang dilakukan. Dengan demikain, PTK itu bersifat kolaborasi dan kooperatif.
4. PTK bersifat luwes dan mudah diadaptasi. Dengan demikian, maka cocok digunakan
dalam rangka pembaharuan dalam kegiatan kelas. Hal ini juga memungkinkan6
diterapkannya suatu hasil studi dengan segera dan penelaahan kembali secara
berkesinambungan.
5. PTK banyak mengandalkan data yang diperoleh langsung atas refleksi diri peneliti.
Pada saat penelitian berlangsung Guru sendiri dibantu rekan lainnya mengumpulkan
informasi, menata informasi, membahasnya, mencatatnya, menilainya, dan sekaligus
melakukan tindakan-tindakan secara bertahap. Setiap tahap merupakan tindakan lanjut
tahap sebelumnya.
6. PTK sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimen dalam hal percobaan
tindakan yang segera dilakukan dan ditelaah kembali efektivitasnya. Tetapi, PTK tidak
secara ketat memperdulikan pengendalian variabel yang mungkin mempengaruhi hasil
penelaahan. Oleh karena kaidah-kaidah dasar penelitian ilmiah dapat dipertahankan
terutama dalam pengambilan data, perolehan informasi, upaya untuk membangun pola
tindakan, rekomnedasi dan lain-lain, maka PTK tetap merupakan proses ilmiah.
7. PTK bersifat situasional dan spesisifik, yang pada umumnya dilakukan dalam bentuk
studi kasus. Subyek penelitian sifatnya terbatas, tidak representatif untuk merumuskan
atau generalisasi. Penggunaan metoda statistik terbatas pada pendekatan deskriptif
tanpa inferensi.
1.4 Prinsip PTK
Menurut Hopkins (1993: 57-61), terdapat 6 prinsip penelitian tindakan kelas.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1. Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya PTK
yang dilakukan tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar. Ada dua hal penting
terkait dengan prinsip ini. Pertama, mungkin metode pembelajaran yang diterapkannya
dalam PTK tidak segera dapat memperbaiki pembelajarannya, atau hasilnya tidak jauh
berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Sebagai pertanggungjawaban
profesional, Guru hendaknya selalu secara konsisten menemukan sebabnya, mencari
jalan keluar terbaik, atau menggantinya agar mampu memfasilitasi para siswa dalam
belajar dan meningkatkan hasil belajar secara lebih optimal. Kedua, banyaknya siklus
yang diterapkan hendaknya mengutamakan pada ketercapaian kriteria keberhasilan,
misalnya pembentukan pemahaman yang mendalam (deep understanding) ketimbang7
sekadar menghabiskan kurikulum (content coverage), dan tidak semata-mata mengacu
pada kejenuhan informasi (saturation of information).
2. Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat
mungkin hendaknya dapat diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangai
sendiri, sementara Guru tetap aktif sebagai mana biasanya. Teknik pengumpulan data
diuapayakan sesederhana mungkin, asal mampu memperoleh informasi yang cukup
signifikan dan dapat dipercaya secara metodologis.
3. Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan reliabilitasnya
yang memungkinkan Guru dapat mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara
meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelas, serta
memperoleh data yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis tindakannya.
Jadi, walaupun terdapat kelonggaran secara metodologis, namun PTK mestinya tetap
dilaksanakan atas dasar taat kaidah keilmuan.
4. Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar membuat Guru galau,
sehingga atas dasar tanggung jawab profesional, dia didorong oleh hatinya untuk
memiliki komitmen dalam rangka menemukan jalan keluarnya melalui PTK.
Komitmen tersebut adalah dorongan hati yang paling dalam untuk memperoleh
perbaikan secara nyata proses dan hasil pelayanannya pada siswa dalam menjalankan
tugas-tugas kesehariannya dibandingkan dengan proses dan hasil-hasil sebelumnya.
Dengan demikian, mengajar adalah penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan
dalam rangka mengkonstruksi pengetahuan sendiri agar mampu melakukan perbaikan
praktiknya.
5. Pelaksanaan PTK seyogyanya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi.
Artinya, PTK hendaknya diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekan-
rekan Guru, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya
sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan
kepentingan siswa layaknya sebagai manusia.
6. Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat PTK hendaknya tidak terbatas
hanya pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan
perspektif sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang
pelaku akan sangat mengakomodasi kepentingan tersebut.8
1.5 Tujuan PTK
Tujuan PTK dapat digolongkan atas dua jenis, tujuan utama dan tujuan sertaan.
Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan profesional
Guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan
melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis
berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat
memecahkan masalah pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan,
melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, dan refleksi.
2. Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari
kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait
dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan
pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah,
(2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3)
produknyas adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung
oleh lingkungan.
3. Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.
1.6 Manfaat PTK
PTK dapat memberikan manfaat sebagai inovasi pendidikan yang tumbuh dari
bawah, karena Guru adalah ujung tombak pelaksana lapangan. Dengan PTK Guru menjadi
lebih mandiri yang ditopang oleh rasa percaya diri, sehingga secara keilmuan menjadi lebih
berani mengambil prakarsa yang patut diduganya dapat memberikan manfaat perbaikan.
Rasa percaya diri tersebut tumbuh sebagai akibat Guru semakin banyak mengembangkan
sendiri pengetahuannya berdasarkan pengalaman praktis. Dengan secara kontinu
melakukan PTK, Guru sebagai pekerja profesional tidak akan cepat berpuas diri lalu diam
di zone nyaman, melainkan selalu memiliki komitmen untuk meraih hari esok lebih baik
dari hari sekarang. Dorongan ini muncul dari rasa kepedulian untuk memecahkan masalah-
masalah praktis dalam kesehariannya.
Manfaat lainnya, bahwa hasil PTK dapat dijadikan sumber masukan dalam rangka
melakukan pengembangan kurikulum. Proses pengembangan kurikulum tidak bersifat9
netral, melainkan dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang saling terkait mengenai hakikat
pendidikan, pengetahuan, dan pembelajaran yang dihayati oleh Guru di lapangan. PTK
dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan secara empirik.
1.7 Prosedur PTK
PTK merupakan proses pengkajian suatu masalah pada suatu kelas melalui sistem
daur ulang dari berbagai kegiatan, seperti yang ditunjukkan pada Bagan 01.
Merencanakan ® Melakukan Tindakan ® Mengamati dan menilai ® Merefleksikan
® Merencanakan ® Melakukan Tindakan® Mengamati dan Menilai
® Merefleksikan ® dan seterusnya.
Bagan 01
Daur Ulang dalam Penelitian Tindakan Kelas
Daur tersebut dapat dilaksanakan bertolak dari hasil refleksi diri tentang adanya unsur
ketidakpuasan diri sendiri terhadap kinerja yang dilakukan dan yang dilalui sebelumnya.
Misalnya, Guru sadar bahwa hasil belajar siswa pada bidang studi yang diasuh selalu
terpuruk. Guru saat itu berpikir tentang strategi pembelajaran yang diterapkan selama ini,
fasilitas yang mendukung pelajaran, lalu mencari kelemahan-kelemahan kinerja yang telah
dilakukan yang diduga sebagai penyebab terpuruknya hasil belajar siswa. Untuk
merencanakan tindakan perbaikan, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu Guru,
sebagai berikut. (1) Apa kepedulian anda terhadap kelas itu? (2) Mengapa anda peduli
terhadap hal tersebut? (3) Apa yang menurut pendapat anda, anda dapat lakukan berkenan
dengan hal itu? (4) Bukti-bukti yang bagaimana yang dapat anda kumpulkan untuk
membantu menelaah apa yang terjadi? (5) Bagaimana anda akan mengumpulkan bukti-
bukti itu? (6) Bagaimana anda akan memeriksa bahwa pertimbangan anda mengenai apa
yang terjadi itu cukup tepat dan cermat?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu akan menghasilkan penilaian praktis
tentang situasi yang dihadapi dan menghasilkan pula rencana yang mungkin digunakan
untuk menangani situasi itu. Dalam hal seperti itu, daur ulang yang serupa dengan yang
dikemukakan tersebut terjadi pula, yaitu dengan terjadinya apa yang dirasakan Guru.10
1. Guru mengalami suatu masalah dalam mengajar apabila sistem nilai yang diperoleh
tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum.
2. Guru membayangkan pemecahan masalah tersebut.
3. Guru bertindak sesuai dengan cara pemecahan yang dibayangkan.
4. Guru menilai hasil upaya pemecahan itu.
5. Guru memperbaiki praktik, rencana, dan gagasan-gagasan mengajar dengan strategi
baru sesuai dengan hasil penilaian itu.
6. Guru menerangkan hasil perubahan itu sambil menelaah dampaknya terhadap hasil
kerjanya.
1.8 Proses PTK
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa keseluruhan proses PTK
selengkapnya terdiri atas tahapan-tahapan seperti yang dilukiskan pada Bagan 02, yang
pada pokoknya terdiri dari empat tahapan.
Refleksi Awal
® Penelaahan Lapangan ® Tema Kepedulian
Gagasan Umum ¯
Perencanaan Umum
¯
Perencanaan ® Tindakan
­ ¯
Observasi ¬ Refleksi
Bagan 02
Proses Siklus Penelitian Tindakan kelas
1.8.1 Refleksi Awal, Gagasan Umum, Penelaahan Lapangan,
dan Tema Kepedulian
Keempat tahapan berpikir ini adalah langkah awal yang merupakan akumulasi dan
rasa ketidakpuasan seorang Guru atau hasil renungannya terhadap kinerja yang dilakukan.
Refleksi awal tidak lain merupakan latar belakang masalah untuk melahirkan gagasan11
umum. Penelaahan lapangan adalah keberhasilan dalam mengidentifikasi permasalahan
yang ada. Menganalisis sumber penyebabnya, dan berdasarkan logika ilmiah
diwujudkanlah tema kepedulian yang merupakan permasalahan pokok yang akan diteliti.
Agar hasil penelaahan lapangan dapat seakurat mungkin, maka Guru dianjurkan menyimak
kepustakaan penelitian pendidikan (jurnal dan buku sumber) dan pengalaman pribadinya.
Hal ini akan membantu kerja yang lebih tepat. Di samping itu, kajian kepustakaan akan
menyadarkan Guru ke arah kesiapan pengenalan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai sosial,
minat siswa dan atau kelompok kerjanya, yang semuanya akan mempengaruhi rasionalitas,
keterbukaan, dan keserasian kerja.
Sebagai ilustrasi, misalkan seorang Guru Biologi sangat peduli terhadap hasil belajar
siswanya yang selalu terpuruk (dilihat dari nilai formatif, sumatif, dan ebtanas). Guru mulai
bertanya-tanya mengapa nilai siswa selalu buruk? Padahal pembelajaran telah dilakukan
sesuai dengan tuntutan kurikulum, banyak pembahasan masalah-masalah nyata, sering
ulangan, dan sebagainya. Setelah diselidiki lebih jauh, misalnya dengan mengadakan
wawancara pada beberapa siswa, terungkap bahwa siswa kurang puas dengan model
pembelajaran diskusi biasa yang diterapkan selama ini. Disinyalir bahwa Guru tidak pernah
mengubah cara memfasilitasi pembelajaran, tidak pernah mengajak siswa bereksperimen
atau penyelidikan. Berdasarkan data tersebut, Guru mulai memikirkan tema kepeduliannya,
misalnya Penerapan Model Problem-Based Learning Sebagai Upaya Peningkatan
Kompetensi Dasar Siswa Pada Bidang Studi Biologi. Rumusan-rumusan tema tersebut
selanjutnya dijabarkan ke dalam rumusan masalah, misalnya apakah penerapan model
Problem-Based Learning dapat meningkatkan kompetensi dasar siswa? Bagaimana respon
siswa terhadap pembelajaran biologi dengan model Problem-Based Learning? Untuk
menjawab permasalahan-permasalahan tersebut, Guru hendaknya menyimak tentang
peranan Model Problem-Based Learning dalam peningkatan kompetensi dasar siswa,
sehingga dia dapat merumuskan hipotesis tindakan.
1.8.2 Perencanaan
Perencanaan selalu mengacu kepada tindakan apa yang dilakukan, dengan
mempertimbangkan keadaan dan suasana obyektif dan subyektif. Dalam perencanaan
tersebut, perlu dipertimbangkan tindakan khusus apa yang dilakukan, apa tujuannya.
Mengenai apa, siapa melakukan, bagaimana melakukan, dan apa hasil yang diharapkan.12
Setelah pertimbangan itu dilakukan, maka selanjutnya disusun gagasan-gagasan dalam
bentuk rencana yang dirinci. Kemudian gagasan-gagasan itu diperhalus, hal-hal yang tidak
penting dihilangkan, pusatkan perhatian pada hal yang paling penting dan bermanfaat bagi
upaya perbaikan yang dipikirkan. Sebainya perencanaan tersebut didiskusikan dengan Guru
yang lain unutk memperoleh masukan.
Berkaitan dengan contoh permasalahan dan tema kepedulian yang telah diuarikan
tersebut, alternatif perencanaan untuk melaksanakan PTK adalah menyiapkan rancangan
pembelajaran dan lembaran kerja siswa dengan model Problem-Based Learning,
mengalokasikan waktu sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran model Problem-
Based Learning, menyiapkan pedoman observasi, pedoman penilaian kinerja, , menyiapkan
tes kompetensi kognitif, menyiapkan tes sikap, meyiapkan format observasi, menyiapkan
angket respon siswa.
1.8.3 Pelaksanaan Tindakan
Jika perencanan yang telah dirumuskan sebelumnya merupakan perencanaan yang
cukup matang, maka proses tindakan semata-mata merupakan pelaksanaan perencanaan itu.
Namun, kenyataan dalam praktik tidak sesederhana yang dipikirkan. Oleh sebab itu,
pelaksanaan tindakan boleh jadi berubah atau dimodifikasi sesuai dengan keperluan di
lapangan. Tetapi jangan sampai modifikasi yang dilakukan terlalu jauh menyimpang. Jika
perencanaan yang telah dirumuskan tidak dilaksanakan, maka Guru hendaknya
merumuskan perencanaan kembali sesuai dengan fakta baru yang diperoleh.
Sesuai dengan contoh permasalahan yang diuraikan sebelumnya, maka tindakan
dapat dilakukan sesuai dengan berikut. Pertama-tama Guru menyajikan permasalahan
kepada siswa. Selanjutnya, dia bisa memulai pembelajaran dengan langkah-langkah sesuai
dengan model Problem-Based Learning. Jika perencanaan telah menetapkan pelaksanaan
asesmen kinerja diadakan setiap kali pertemuan, lakukanlah asesmen kinerja tersebut
dengan seksama. Hasil asesmen dianalisis sekaligus diberi komentar pada masing-masing
konsep yang menjadi materi kinerja para siswa. Komentar hendaknya menyatakan
penilaian kuantitatif pada setiap tahap yang dikehendaki secara logis. Komentar berikut
nilai dikembalikan kepada siswa untuk dibahas pada pertemuan berikutnya. Agar waktunya
efisien, maka diadakan identifikasi kesalah pahaman siswa sekaligus dapat dikelompokkan13
jenis-jenis kesalah pahaman tersebut. Setelah pembahasan tentang hasil asesmen tersebut
selesai, mulailah pembelajaran topik baru, dan demikian seterusnya.
1.8.4 Observasi dan Evaluasi
Hal yang tidak bisa dilupakan, bahwa sambil melakukan tindakan hendaknya juga
dilakukan pemantauan secara cermat tentang apa yang terjadi. Dalam pemantauan itu,
lakukan pencatatan-pencatatan sesuai dengan form yang telah disiapkan. Catat pula
gagasan-gagasan dan kesan-kesan yang muncul, dan segala sesuatu yang benar-benar
terjadi dalam proses pembelajaran. Secara teknis operasional, kegiatan pemantauan dapat
dilakukan oleh Guru lain. Di sinilah letak kerja kolaborasi antar profesi. Namun, jika
petugas pemantau itu bukan rekanan peneliti, sebaiknya diadakan sosialisasi materi
pemantauan untuk menjaga agar data yang dikumpulkan tidak terpengaruh minat
pribadinya. Untuk memperoleh data yang lebih obyektif, Guru dapat menggunakan alat-alat
optik atau elektronik, seperti kamera, perekam video, atau perekam suara. Pada setiap kali
akan mengakhiri penggalan kegiatan, lakukanlah evaluasi terhadap hal-hal yang telah
direncanakan. Jika observasi berfungsi untuk mengenali kualitas proses tindakan, maka
evaluasi berperanan untuk mendeskripsikan hasil tindakan yang secara optimis telah
dirumuskan melalui tujuan tindakan.
Seacara ilustratif, berkaitan dengan contoh permasalahan yang telah diungkapkan
sebelumnya, maka pemantauan dilakukan untuk mengamati selama pembelajaran,
mengamati interaksi selama proses penyelidikan berlangsung, mengamati respon siswa
terhadap proses pembelajaran. Sedangkan evaluasi ditujukan kepada hasil belajar siswa
melalui asesmen kinerja, portofolio, tes, dan respon siswa melalui penyebaran angket.14
1.8.5 Refleksi
Refleksi adalah suatu upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi, yang telah
dihasilkan, atau apa yang belum dihasilkan, atau apa yang belum tuntas dari langkah atau
upaya yang telah dilakukan. Dengan perkataan lain, refleksi merupakan pengkajian
terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan. Untuk maksud ini, Guru
hendaknya terlebih dahulu menentukan kriteria keberhasilan. Refleksi terdiri atas 5
komponen. Komponen-komponen tersebut dilukiskan pada Bagan 03.
Analisis ® Sintesis ® Pemaknaan ® Penjelasan ® Penyusunan
Kesimpulan
Bagan 03
Komponen-komponen Refleksi dalam PTK
Kelima komponen itu dapat terjadi secara berurutan, atau terjadi bersamaan. Apabila Guru
selaku pelaksana PTK telah memiliki gambaran menyeluruh mengenai apa yang terjadi
pada fase sebelumnya, maka kalau dia ingin melanjutkan tindakan berikutnya, dia harus
memikirkan faktor-faktor penyebabnya. Pengkajian seperti itu dilakukan dengan tetap
memperhatikan ke seluruhan tema kepedulian PTK yang sedang berjalan dan tentu saja
dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai atau perubahan yang diharapkan. Dalam
rangka menetapkan tindakan selanjutnya, Guru hendaknya jangan semata-mata terpaku
kepada faktor-faktor penyebab yang berhasil dianalisis, tetapi yang lebih penting adalah
penetapan langkah berikutnya merupakan hasil renungan kembali mengenai kekuatan dan
kelemahan tindakan yang telah dilakukan, perkiraan peluang yang akan diperoleh, kendala
atau kesulitan bahkan ancaman yang mungkin dihadapi. Hasil refleksi hendaknya
didiskusikan sebelum diambil suatu keputusan, lebih-lebih hasil refleksi yang akan
digunakan sebagai dasar kesimpulan dan rekomendasi.
Berikut disajikan contoh ilustrasi refleksi. Misalkan hasil observasi terungkap bahwa
dari strategi (misalkan diskusi kelas) yang telah digunakan dalam pembelajaran, ternyata
siswa ribut, kurang bertanggung jawab, kesiapannya kurang. Hasil observasi terhadap
proses pembahasan hasil asesmen diperoleh data bahwa siswa kurang aktif berinteraksi
terhadap materi pelajaran, temannya, dan terhadap Guru. Hasil analisis kompetnsinya15
terungkap masih rendah (belum mencapai target minimal). Respon siswa tidak bisa
mengikuti pembelajaran secara optimal dalam waktu singkat, sulit mendapat giliran dalam
diskusi kelas, tidak ada kesesuaian antara materi diskusi dengan materi tes, dan lain-lain.
Terhadap semua data tersebut, maka Guru melakukan refleksi. Misalnya diskusi kelas
diubah menjadi diskusi kelompok, lebih banyak menyiapkan pertanyaan-pertanyaan dalam
diskusi, memberikan tugas sebelumnya kepada siswa, menunjuk secara bergiliran siswa
untuk mengerjakan tugas sekaligus dinilai secara kualitatif atau kuantitatif, hasil asesmen
didiskusikan kepada siswa sebelum pembelajaran berikutnya, sasaran belajar dirumuskan
secara realistis yang mudah diukur, dan lain-lain.16
II. TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL
Substansi secara umum, sistematika proposal penelitian tindakan kelas terdiri dari
komponen-komponen berikut: (1) judul, (2) latar belakang masalah, (3) identifikasi
masalah, (4) pembatasan dan perumusan masalah, (5) cara pemecahan masalah, (6) tujuan
tindakan, (7) manfaat tindakan, (8) krangka konseptual dan hipotesis tindakan, (9) metode
penelitian. Metode penelitian mencakup unsur-unsur: (a) subjek dan objek penelitian, (b)
rancangan penelitian, yang mencakup: perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi,
perencanaan ulang, dst, (c) instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data, (d) analisis
data dan kriteria keberhasilan.
2.1 Judul Penelitian
Judul hendaknya dibuat secara ringkas dan mencerminkan tindakan, perbaikan
pembelajaran, dan subyek sasaran.
Contoh:
(1) Penerapan model group investigation untuk meningkatkan keterampilan berpikir
kritis dalam pembelajaran matematika bagi siswa kelas VIII SMPN 2 Nusa Penida.
Pada contoh nomor 1, sebagai tindakan adalah model group investigation, perbaikan
pembelajaran yang diharapkan adalah peningkatan keterampilan berpikir kritis
siswa dalam pembelajaran matematika, dan subyek sasaran adalah siswa kelas VIII
SMPN 2 Nusa Penida.
(2) Penerapan model project-based learning untuk meningkatkan hasil pembelajaran
menulis bagi siswa kelas IX SMPN 5 Nusa Penida.
Pada contoh nomor 2, sebagai tindakan adalah model project-based learning,
perbaikan pembelajaran yang diharapkan adalah peningkatan hasil pembelajaran
menulis, dan subyek sasaran adalah siswa kelas IX SMPN 5 Nusa Penida.
2.2 Latar Belakang Masalah
Uraian latar belakang masalah merupakan unsur yang sangat penting dalam PTK.
Uraian tersebut mendeskripsikan permasalahan real yang dialami oleh guru dalam
pembelajaran. Secara umum, masalah biasanya muncul disebabkan oleh tiga faktor. (1)
Masalah berkaitan dengan karakter mata pelajaran atau pokok bahasan dari mata17
pelajaran tersebut. Dalam hal ini, guru mencermati tingkat kesulitan materi pelajaran,
sehingga memerlukan pemecahan secara khusus melalui PTK. (2) Masalah berkaitan
dengan faktor internal siswa. Termasuk dalam hal ini, adalah kurangnya minat dan
bakat siswa terhadap pelajaran, rendahnya motivasi belajar, dan rendahnya hasil belajar
siswa, semuanya memerlukan penanganan secara profesional melalui PTK. (3)
Masalah yang berkaitan dengan fakror internal guru. Termasuk dalam hal ini, adalah
kurangnya penguasaan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan dan penguasaan
guru dalam mendesain, mengembangkan, menerapkan, mengelola, dan mengevaluasi
proses dan sumber belajar. Faktor-faktor internal guru tersebut juga memerlukan
refleksi secara obyektif dan melakukan tindakan sebagai akibat dorongan dari dalam
diri untuk melakukan perbaikan diri yang akan bermuara pada peningkatan mutu
pelayanan, proses, dan hasil belajar siswa.
Secara metodologis, ada enam pertanyaan yang jawabannya akan menuntun dalam
penyusunan latar belakang masalah PTK, yaitu: (1) apa yang menjadi harapan? (2) apa
kenyataan yang terjadi (3) apa kesenjangan yang dirasakan, (4) apa yang menyebabkan
terjadinya kesenjangan (5) tindakan apa yang dilakukan untuk mengatasi kesenjangan
(6) apa kekuatan tindakan yang dilakukan tersebut dalam mengatasi kesenjangan?
2.3 Identifikasi Masalah
Sesungguhnya, identifikasi masalah telah disinggung ketika peneliti mengungkap
jawaban terhadap pertanyaan “apa kesenjangan yang terjadi”) dan pertanyaan “apa yang
menyebabkan terjadinya kesenjangan”. Namun, untuk lebih memperjelas, identifikasi
masalah diungkapkan kembali secara tersendiri.
2.4 Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar penelitian lebih terarah dan jelas skupnya, maka masalah yang telah diidentifikasi
perlu dibatasi. Pembatasan masalah ditujukan pada objek penelitian, yaitu objek
tindakan dan objek hasil tindakan. Batasan terhadap objek tindakan dilakukan dengan
memberikan penjelasan istilah secara konseptual, sedangkan batasan masalah terhadap
objek hasil tindakan dilakukan dengan menyajikan definisi operasional. Definisi
operasional mengarah pada pengukuran. Setelah masalah dibatasi dengan cermat, maka18
diajukan rumusan masalah. Rumusan masalah penelitian tindakan kelas dinyatakan
dalam kalimat tanya. Esensinya adalah menanyakan apakah tindakan dapat melakukan
perbaikan pembelajaran. Terkait dengan contoh judul 1, maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut.
Bagaimana model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan
keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika?
2.5 Cara Pemecahan Masalah
Cara pemecahan masalah yang diungkapkan adalah ringkasan dari kerangka konseptual.
Ringkasan ini menampilkan bagian-bagian esensial dari kerangka konseptual yang
dapat mencerminkan alternatif tindakan yang akan dilakukan. Walaupun cara
pemecahan masalah ini masih dalam bentuk konsepsi, namun tetap dapat melukiskan
jawaban terhadap masalah yang diajukan. Terkait dengan contoh judul nomor 1, maka
cara pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut.
Untuk memecahkan masalah tersebut, digunakan model group investigation. Secara
konseptual, model group investigation terdiri dari 6 langkah pembelajaran, (1)
grouping, (2) planning, (3) investigating, (4) organizing, (5) presenting, dan (6)
evaluating. Keenam langkah pembelajaran tersebut mencerminkan konteks (grouping
dan planning), input (grouping dan planning), proses (investigating, organizing,
presenting, dan evaluating), dan produk (evaluating). Dalam rangka memecahkan
masalah secara lebih optimal, penerapan model group investigation dipadukan dengan
evaluasi model CIPP. Perpaduan antara model group investigation dan evaluasi model
context—input—process--product (CIPP) memberi peluang kepada siswa untuk
menggunakan keterampilan-keterampilan berpikirnya secara optimal. Oleh sebab itu,
penerapan model group investigation diyakini dapat keterampilan berpikir siswa.
2.6 Tujuan Tindakan
Tujuan penelitian tindakan diungkapkan dalam kalimat pernyataan. Tujuan
diungkapkan secara optimis bahwa perbaikan pembelajaran dapat dilakukan dengan
tindakan yang diadopsi tersebut. Terkait dengan contoh judul 1, maka rumusan tujuan
penelitian adalah sebagai berikut.19
Meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran
matematika kelas VIII SMPN 2 Nusa Penida dengan model pembelajaran
group investigation.
2.7 Manfaat Tindakan
Dalam penelitian tindakan kelas, Guru atau peneliti secara tidak langsung akan
mengembangkan perangkat-perangkat pembelajaran (suplemen buku ajar, desain
pembelajaran, perangkat keras dan atau perangkat lunak praktikum, alat evaluasi, dan
lain-lain) yang koheren dengan teori yang mendasari tindakan. Rumuskan manfaat
perangkat-perangkat pembelajaran tersebut kaitannya dengan upaya melakukan
perbaikan pembelajaran. Di samping itu, Guru atau peneliti akan berhasil
mengeksplorasi atau mengungkap temuan data atau fakta empiris. Lakukan prediksi
terhadap data atau fakta empiris tersebut dan rumuskan manfaatnya. Semua manfaat
yang dirumuskan tersebut dispesifikasi untuk siswa, Guru, peneliti, sekolah, atau pihak-
pihak lain yang berkepentingan.
2.8 Krangka Konseptual
Kerangka konseptual sangat penting untuk diformulasikan. Kerangka konseptual
merupakan landasan yang kuat dilakukannya tindakan tersebut. Dengan dasar
konseptual peneliti yakin dapat melakukan perbaikan pembelajaran. Kerangka
konseptual hendaknya diformulasikan sejelas-jelasnya, karena rumusan tersebut akan
digunakan sebagai dasar dalam menentukan perencanaan, langkah-langkah operasional
tindakan, dan evaluasi. Jadi, kerangka konseptual mendasari rencana tindakan,
pelaksanaan tindakan, dan evaluasi tindakan. Oleh sebab itu, kerangka konseptual
seyogyanya dibuat secara spesifik dan memiliki keunggulan teoretik dibandingkan
dengan perspektif yang mengalami anomali ketika peneliti mencermati permasalahan.
Kerangka konseptual hendaknya merupakan kombinasi antara reviu teoretis dan
empiris. Pertemuan antara landasan teori dan pengalaman empiris tersebut akan
melahirkan kesimpulan bahwa tindakan yang dilakukan dapat melakukan perbaikan
terhadap pembelajaran yang dilakukan. Kesimpulan tersebut merupakan hipotesis
tindakan. Terkait dengan contoh judul nomor 1, kerangka konseptual baik teoretis20
maupun empiris yang perlu direviu adalah: (1) karakteristik pembelajaran matematika,
(2) proses pembelajaran, (3) model pembelajaran group investigation, (4) evaluasi CIPP
dan kaitannya dengan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar.
Kerangka konseptual seyogyanya diakhiri dengan kerangka berpikir. Kerangka berpikir
merupakan preskripsi yang disusun sendiri oleh peneliti (guru) berdasarkan kerangka
konseptual yang telah disusun. Preskripsi tersebut menggambarkan keefektifan
hubungan secara konseptual antara tindakan yang dilakukan dan hasil-hasil tindakan
yang diharapkan. Akan lebih jelas, apabila kerangka berpikir dilukiskan dengan
diagram balok.
2.9 Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan diungkapkan dalam bentuk kalimat pernyataan yang merupakan
jawaban sementara terhadap masalah yang diajukan. Hipotesis menyatakan secara tegas
bahwa tindakan yang dilakukan dapat melakukan perbaikan pembelajaran. Terkait
dengan contoh judul 1, maka rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut.
Penerapan model pembelajaran group investigation dengan pemberdayaan
evaluasi CIPP dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dalam
pembelajaran matematika bagi siswa kelas VIII SMPN 2 Nusa Penida.
2.10 Cara Penelitian
Cara penelitian yang akan dijelaskan adalah: (1) rancangan penelitian, (2) subjek dan
objek penelitian, (3) prosedur penelitian, (4) instrumen penelitian, (5) teknik
pengumpulan data, (6) teknik analisis data, (7) kriteria keberhasilan tindakan.
2.11 Rancangan penelitian
Rancangan penelitian yang dimaksud adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Cuman
yang perlu ditekankan adalah rancangannya akan ditetapkan berapa siklus dalam
penelitian itu. Hal tersebut adalah otoritas peneliti, karena hanya peneliti yang tahu.
Hal-hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan banyaknya siklus
adalah: waktu yang tersedia, panjangnya pokok bahasan, karakteristik materi, siswa
semester berapa yang akan menjadi subyek, dan sebagainya. Secara teoretis,21
sesungguhnya siklus PTK tidak harus ditetapkan terlebih dulu. Banyaknya siklus yang
akan dilaksanakan sangat tergantung pada tingkat ketercapaian kriteria keberhasilan.
Jika penelitian dalam dua siklus telah mencapai kriteria keberhasilan, maka penelitian
dapat dihentikan. Namun, jika dilihat dari beragamnya karakteristik materi pelajaran,
keberhasilan pada siklus sebelumnya tidaklah 100% akan menjadi jaminan bagi
keberhasilan siklus berikutnya, oleh karena peneliti akan banyak berurusan dengan
karakteristik materi pelajaran yang sering berbeda. Di samping itu, PTK tidak bertujuan
memenuhi keinginan peneliti, tetapi bertujuan lebih memuaskan subyek sasaran yang
akan belajar pada sejumlah silabus dengan karakteristik materi yang beragam. Itulah
sebabnya penentuan jumlah siklus tetap menjadi otoritas peneliti. Tetapi yang tidak
dapat dilupakan, bahwa setiap siklus akan selalu terdiri dari 4 langkah, yaitu: (1)
perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi/evaluasi, dan (4) refleksi.
2.12 Subjek dan objek penelitian
Subjek penelitian adalah orang yang dikenai tindakan. Dalam konteks pendidikan di
sekolah, subjek penelitian adalah siswa, guru, pegawai, atau kepala sekolah. Dalam
kontek pembelajaran di sekolah, subjek penelitian umumnya adalah siswa. Tetapi harus
dijelaskan siswa kelas berapa, semester berapa pada tahun akademik tertentu, hal ini
karena terkait dengan asal masalah yang dirasakan oleh Guru bersangkutan. Jika
masalah dirasakan di kelas VIII semester I, maka sebagai subyek penelitian adalah
siswa kelas VIII semester I. Tentunya, klarifikasi mengapa siswa di kelas VIII semester
I itu digunakan sebagai subjek, harus diungkapkan secara jelas.
Objek penelitian dibedakan atas dua macam, yaitu (1) objek yang mencerminkan proses
dan (2) objek yang mencerminkan produk. Objek yang mencerminkan proses
merupakan tindakan yang dilakukan berikut perangkat-perangkat pendukungnya.
Sedangkan objek yang mencerminkan produk merupakan masalah pembelajaran yang
diharapkan mengalami perbaikan dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang
dilakukan. Tanggapan siswa cukup penting diperhitungkan sebagai objek penelitian,
karena esensi penelitian tindakan kelas adalah students satisfaction. Tanggapan siswa
tersebut juga dapat mencerminkan secara tidak langsung mengenai proses tindakan.22
Tanggapan positif mencerminkan proses pembelajaran yang kondusif, sedangkan
tanggapan negatif mencerminkan proses pembelajaran yang kurang kondusif.
Tekait dengan contoh judul nomor 1, maka sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas
VIII semester I SMPN 2 Nusa Penida pada tahun pelajaran 2007/2008. Sebagai objek
penelitian, adalah: model group investigation, keterampilan berpikir kritis siswa, dan
tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan.
2.13 Prosedur penelitian
Yang dimaksud prosedur penelitian adalah langkah-langkah operasional baik yang
terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, maupun refleksi.
Langkah-langkah operasional tersebut bersumber dari kerangka konseptual yang
diuraikan pada bagian sebelumnya.
Perencanaan. Uraikan langkah-langkah kolaborasi yang dilakukan, fakta-fakta empiris
yang diperlukan dalam rangka tindakan, sosialisasi esensi tindakan dan skenario
pembelajaran yang akan dilaksanakan pada guru sejawat dan siswa, perangkat-
perangkat pembelajaran yang perlu disiapkan dan dikembangkan, lembaran-lembaran
evaluasi dan instrumen lain berikut kriteria penilaian yang akan disiapkan dan
dikembangkan.
Pelaksanaan. Uraikan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan skenario yang
telah dikembangkan pada langkah perencanaan. Langkah-langkah pembelajaran ini
akan sesuai dengan hakikat teori yang mendasari strategi pembelajaran, atau sesuai
dengan sintaks model pembelajaran yang diadaptasi. Langkah-langkah pembelajaran
tersebut hendaknya dibuat secara rinci, karena akan mencerminkan kualitas proses
pembelajaran yang akan dihasilkan.
Observasi/Evaluasi. Observasi dilakukan terhadap interaksi-interaksi akademik yang
terjadi sebagai akibat tindakan yang dilakukan. Interaksi-interaksi yang dimaksud dapat
mencakup interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, interaksi antar siswa,
interaksi antara siswa dengan guru. Oleh sebab itu, uraian secara jelas tindakan yang23
dilakukan tertuju pada interaksi yang mana saja, bagaimana melakukan observasi,
seberapa sering obserbasi itu dilakukan, dan apa tujuan observasi tersebut. Observasi
yang utuh akan mencerminkan proses tindakan yang berlangsung. Untuk memperoleh
data yang lebih akurat, observasi sering dilengkapi dengan perekaman dengan tape atau
video. Evaluasi biasanya dilakukan untuk mengukur obyek produk, misalnya kualitas
proses pembelajaran, sikap siswa, kompetensi praktikal, atau tanggapan siswa. Untuk
itu, uraikan evaluasi yang dilakukan, jenisnya dan tujuannya, dan untuk mengukur apa
evaluasi itu dilakukan.
Refleksi. Hasil observasi dan evaluasi selanjutnya direfleksi tingkat ketercapaiannya
baik yang terkait dengan proses maupun terhadap hasil tindakan. Refleksi ini bertujuan
untuk memformulasikan kekuatan-kekuatan yang ditemukan, kelemahan-kelemahaman
dan atau hambatan-hambatan yang mengganjal upaya dalam pencapaian tujuan secara
optimal, dan respon siswa. Refleksi ini harus dijelaskan secara rinci. Tujuannya adalah
untuk melakukan adaptasi terhadap strategi/pendekatan/metode/model pembelajaran
yang diterapkan, lebih memantapkan perencanaan, dan langkah-langkah tindakan yang
lebih spesifik dalam rangka pelaksanaan tindakan selanjutnya.
2.14 Instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data
Instrumen sangat terkait dengan obyek penelitian, utamanya obyek produk. Instrumen-
instrumen tersebut misalnya: pedoman observasi, checklist, pedoman wawancara, tes,
angket, dan lain-lain. Uraikan instrumen yang diperlukan sesuai dengan PTK yang akan
diakukan. Untuk contoh judul PTK yang pertama, maka instrumen yang diperlukan
adalah: pedoman penilaian tentang kinerja dan portofolio siswa, baik yang terkait
dengan konteks, input, proses, maupun yang terkait dengan produk yang dihasilkan.
Dalam contoh ini, kriteria penilaian (rubrik) mutlak diperlukan. Teknik pengumpulan
data menekankan secara lebih spesifik tentang cara mengumpulkan data yang
diperlukan. Apabila data yang diperlukan adalah kompetensi praktikal siswa di
laboratorium, maka teknik pengambilan datanya adalah observasi. Apabila data yang
akan dikumpulkan adalah hasil belajar kognitif, maka teknik pengumpulannya adalah
tes lisan atau tes tertulis, portofolio, atau asesmen otentik. Apabila data yang akan24
dikumpulkan adalah respon siswa, maka tekniknya adalah angket atau wawancara, dan
seterusnya. Uraikanlah teknik pengumpulan data yang diperlukan sesuai dengan tujuan
PTK.
2.15 Teknik analisis data dan kriteria keberhasilan
Data yang telah dikumpulkan harus dianalisis. Analisis hanya bersifat kualitatif. Jika
ada data kuantitatif, analisisnya paling banyak menggunakan statistik deskriptif dengan
penyimpulan lebih mendasarkan diri pada nilai rata-rata dan simpangan baku amatan
atau persentase amatan. Hasil analisis data kualitatif dikonsultasikan dengan makna
kualitatif yang mencerminkan struktur dasar terhadap jawaban masalah penelitian.
Misalnya, bagaimana metode demontrasi dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam
belajar? Hasil analisis data hendaknya dikonsultasikan dengan makna demonstrasi
secara aktual, bukan pikiran guru atau pengamat lainnya. Hasil analisis kuantitaif,
selanjutnya dikonsultasikan pada pedoman konversi. Dalam PTK biasanya digunakan
pedoman konversi nilai absolut skala lima. Misalnya, data hasil belajar, pedoman
konversinya adalah sebagai berikut.
Interval Kualifikasi
0 – 39,9 Sangat kurang
40,0 – 54,9 Kurang
55,0 – 69,9 Cukup
70,0 – 84,5 Baik
85,0 – 100 Sangat baik
Sebagai kriteria keberhasilan, peneliti dapat menetapkan nilai rata-rata minimal 55,0
atau 70,0 tergantung rasional yang dijadikan dasar atau Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang ditetapkan oleh guru.
Di samping itu, kriteria ketuntasan belajar juga dapat dijadikan kriteria keberhasilan.
Misalnya, ketuntasan individual adalah nilai 7,5 pada skala 11 dan ketuntasan klasikal
85%, dan seterusnya.25
DAFTAR RUJUKAN
Kirkey, T. L. 2005. Differentiated instruction and enrichment opportunities: An action
research report. http://www.nipissingu.ca/oar/PDFS/V833E.pdf
McNiff, J. 1992. Action research: Principles and practice. London: Routledge
McNiff, J. 1992. Action research for professional development: Concise advise for new
action esearchers. http://www.jeanmcneiff.com/booklet1.html
McIntosh, J. E. 2005. Valuing the collaborative nature of professional learning
communities. http://www.nipissingu.ca/oar/PDFS/V82E.pdf
Prendergast, M. 2002. Action research: The improvement of student and teacher learning.
http://educ.queensu.ca/~ar/reports/MP2002.htm
Ryan, Thomas G. 2002. Action research: Collecting and analyzing data. http://www.
nipissingu.ca.oar/Reports/reports_and_document-Thomas_G_Ryan%20.pdf
Jones, P., & Song, L. 2005. Action research fellows at Towson University.
http://www.nipissingu.ca/oar/PDFS/V832E.pdf
Stringer, R. T. 1996. Action research: A handbook for practitioners. London: International
Educational and Profesional Publisher.26
CONTOH SISTEMATIKA PROPOSAL
HALAMAN DEPAN i
HALAMAN PENGESAHAN ii
1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah 4
1.4 Tujuan Penelitian 4
1.5 Manfaat Hasil Penelitian 5
2. KAJIAN PUSTAKA 7
2.1 dst
2.2
2.3
....
2... Kerangka Berpikir
2... Hipotesis Tindakan
3. METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
3.2 Subjen dan Objek Penelitian
3.3 Prosedur Penelitian
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.5 Metode Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN27
FORMAT COVER PROPOSAL
Logo
Kabupaten
USULAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Oleh
............................................................
PEMERINTAH KABUPATEN KLUNGKUNG
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH DASAR ......................................................................
.... (Bulan), 2007
Judul Penelitian28
FORMAT HALAMAN PENGESAHAN
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
TAHUN ANGGARAN 2007
1. Judul Penelitian :
2. Peneliti
a. Nama Lengkap dengan Gelar :
b. Pangkat, Golongan, NIP :
c. Jabatan Fungsional :
d. Nama Sekolah :
Alamat Sekolah :
Nomor Telepon Sekolah :
e. Alamat Rumah :
Nomor Telepon Rumah :
Nomor HP :
f. Mata Pelajaran Yang Menjadi :
Obyek Penelitian :
3. Lokasi Penelitian :
4. Lama Penelitian : ... (...) bulan, dari bulan ... s.d ... 2007
5. Biaya Penelitian : Rp .........................................................
( ............................................................)
Klungkung, ..................... 2007
Mengetahui: Peneliti,
Kepala Sekolah .....................
..................................................... ....................................................
NIP ............................................ NIP ...........................................
Menyetujui:
Kepala Dinas Kabupaten Klungkung,
..........................................................
NIP .................................................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar