Minggu, 09 Januari 2011

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REFLEKTIF PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. PENDAHULUAN
Dinamika kehidupan masyarakat di era globalisasi abad 21 menuntut sumber daya
manusia yang berkualitas dan profesional, serta memiliki kompetensi di pelbagai bidang
kehidupan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya (Sisdiknas, 2003). Dengan demikian, pendidikan yang bermutu diharapkan dapat
mempersiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang dituntut masyarakat
pada abad 21.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan, adanya tuntutan terhadap mutu
pendidikan SD yang sampai saat ini masih memprihatinkan; isu permasalahan mutu guru
SD berkenaan dengan motivasi, kualifikasi pendidikan, dan kompetensi; mutu LPTK baik
dari aspek masukan, proses maupun produk lulusannya. Peraturan pemerintah no.19
tahun 2005 memsyaratkan kualifikasi akademis pendidikan guru SD minimum D-4 atau
S-1, dan memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.
Berdasarkan itu, maka program S1-PGSD sebagai LPTK yang berkewajiban
mempersiapkan guru SD, perlu mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang
dapat membekali mahasiswanya dengan kemampuan-kemampuan agar dapat
melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional di SD.
Pengembangan model pembelajaran pada pendidikan guru didasari oleh
kecenderungan penelitian pendidikan guru (Pintrich, P.R, 1990). yang berupaya
mempertemukan model mengajar guru dengan model belajar siswa (social-cognitive
perspectives), menekankan guru sebagai pelajar dan peneliti (teacher as learner and
reseacher). Kemampuan reflektif diasumsikan dapat membekali mahasiswa program S1-
PGSD dalam melaksanakan tugas mengajar di SD dengan segala tuntutan dan
perubahannya. Asumsi ini didasarkan pada pandangan Ginsberg & Cliff dalam
tulisannya di Handbook of Research on Teacher Education (1990:454-455), Dunkin, MJ
& Biddle, B.J (1936) dan LaBoskey (1993) yang mengungkapkan bahwa mengajar
merupakan praktek reflektif, dan perlunya calon guru terlebih dulu belajar bagaimana
caranya belajar melalui pengalaman, dengan cara merenungkan dan merekonstruksikan
struktur kognisinya.
Pada standar kompetensi guru kelas (SKGK) SD/MI S1-PGSD, unsur reflektif
tersurat pada rumpun kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan tersirat pada
rumpun kompetensi sosial sebagai dampak pengiring pembelajaran. Kemampuan reflektif
memungkinkan mahasiswa sebagai guru SD merefleksikan pengalaman mengajarnya dan
mengambil hikmah, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan
mutu pembelajaran selanjutnya dan pendidikan SD.

Permasalahan
Sebelum merumuskan masalah penelitian, perlu diperhatikan fokus pengembangan
yaitu model pembelajaran. Pembelajaran terdiri dari komponen-komponen pembelajaran
sebagai suatu sistem yang terkait satu dengan lainnya. Komponen dalam pengembangan
model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD
disajikan dalam bagan sebagai berikut .

.









Komponen Pembelajaran sebagai Sistem
Instrumental Input
- Kebijakan pend. Guru (SD)
- Program dan kurikulum
- Personil: kaprodi, dosen, TU
Raw Input
Mahasiswa
S1-PGSD

PROSES
PEMBELAJARAN
Output
Kemp. reflektif mhs
meningkat
Enviromental Input
Tuntutan masyarakat dan perkem-
bangan Ipteks abad 21 terhadap
guru SD
2

3

Proses pembelajaran mahasiswa program S1-PGSD (raw input) menjadi
mahasiswa yang sekaligus bekerja sebagai guru SD meningkat kemampuan reflektifnya
(output), dipengaruhi oleh masukan lingkungan (enviromental input) dan masukan
sarana/instrumental (instrumental input). Masukan lingkungan yang perlu
dipertimbangkan adalah tuntutan masyarakat dan perkembangan Ipteks abad 21 terhadap
guru SD. Masukan sarana/instrumental yang mempengaruhi proses pembelajaran adalah
strategi kebijakan pendidikan guru, program dan kurikulum, personil (ketua program
studi, dosen, tata usaha), dan sarana prasarana yang menunjang.
Dengan memperhatikan latar belakang masalah dan pembelajaran sebagai suatu
sistem, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah model pembelajaran
seperti apa yang tepat untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-
PGSD. Secara spesifik difokuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi pembelajaran/perkuliahan, termasuk faktor pendukung dan
penghambat pembelajaran di program S1-PGSD (saat survei awal, September 2004)?
2. Bagaimana model desain pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
reflektif mahasiswa program S1-PGSD ?
3. Bagaimana implementasi model pembelajaran tersebut pada mata kuliah Penelitian
Tindakan Kelas di program S1-PGSD?
4. Bagaimana dampak penggunaan model pembelajaran tersebut terhadap kemampuan
reflektif mahasiswa program S1-PGSD?
5. Apa karakteristik, keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran yang
dikembangkan?

Tujuan Penelitian
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-
PGSD pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Secara khusus, bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasikan kondisi pembelajaran/perkuliahan program S1-PGSD pada saat
survei awal, September 2004.
2. Menemukan model desain pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
reflektif mahasiswa program S1-PGSD.
3. Mengetahui implementasi model pembelajaran tersebut pada mata kuliah Penelitian
Tindakan Kelas.
4

4. Mendapatkan data perbedaan kemampuan reflektif mahasiswa sebelum dan sesudah
menggunakan model pembelajaran
5. Mengidentifikasikan karakteristik, keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran
yang dikembangkan.

Manfaat Penelitian
Dengan dihasilkannya model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
reflektif mahasiswa program S1-PGSD, maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, diharapkan dapat menghasilkan prinsip-
prinsip dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa
program S1-PGSD, sehingga dapat memperkaya teori mengenai model pembelajaran
yang telah ada. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai
masukan bagi:
1. Program studi S1-PGSD dalam menyelenggarakan pendidikan persiapan (pre-service)
yang mempersiapkan mahasiswanya lebih bermutu dan profesional dalam
menjalankan tugasnya sebagai guru SD.
2. Tenaga pengajar (dosen) program S1-PGSD khususnya yang mengampu mata kuliah
Penelitian Tindakan Kelas dalam mengembangkan dan mengimple-mentasikan model
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswanya.
3. Mahasiswa program S1-PGSD menjadi lebih dipersiapkan dengan kemampuan
reflektif dalam melaksanakan tugas secara profesional dan memiliki kompetensi
dalam menghadapi masalah dan meningkatkan mutu pembelajaran di SD.
4. Peneliti lain yang tertarik untuk menambah wawasan dan pengetahuannya dalam
mengembangkan model pembelajaran, khususnya model pembelajaran untuk
meningkatkan kemampuan reflektif pada pendidikan guru SD.

5

B. KAJIAN TEORI
Kajian teori yang mendasari dan relevan dengan penelitian ini mengenai
pengembangan model pembelajaran (konsep dasar pembelajaran, macam model
pembelajaran, pengembangan model pembelajaran), dan kemampuan reflektif (berfikir
dan sikap reflektif). Selain itu juga dikaji mengenai strategi kebijakan dan kompetensi
guru SD), dan konsep dasar PTK. Namun pada makalah ini, kajian teori ditekankan pada
pengembangan model pembelajaran dan kemampuan reflektif.

Pengembangan Model Pembelajaran
Menurut Oliva (1992:413), “models of teaching are strategies based on theories
(and often the research) of educators, psychologist, philosophers, and others who question
how individual learn”. Hal ini berarti setiap model mengajar atau pembelajaran harus
mengandung suatu rasional yang didasarkan pada teori, berisi serangkaian langkah strategi
yang dilakukan guru maupun siswa, didukung dengan sistem penunjang atau fasilitas
pembelajaran, dan metode untuk mengevaluasi kemajuan belajar siswa.
Terdapat beberapa model mengajar/pembelajaran antara lain model pemrosesan
informasi, kelompok personal, kelompok sosial, dan kelompok perilaku (Joice & Weil,
1986); model pembelajaran kompetensi, pembelajaran kontekstual, pembelajaran mencari
dan bermakna, pembelajaran berbasis pengalaman, pembelajaran terpadu, dan
pembelajaran kooperatif. (Sukmadinata, 2004); model pendidikan guru berbasis akademik,
performansi, kompetensi, lapangan, pelatihan, pengajaran mikro, internship, jarak jauh, dll.
Sebelum membahas proses pengembangan suatu model pembelajaran, perlu
dibahas mengenai pengertian dan prinsip pembelajaran, konsep pembelajaran abad 21
yang didasarkan pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be,
dan learning to live together, belajar sepanjang hayat pada pelajar orang dewasa,
pembelajaran bagaimana caranya belajar (learning how to learn), dan pembelajaran
berfikir (teaching for thinking).
Proses sistematik dalam mengembangkan pembelajaran pada umumnya disajikan
dalam bentuk model pembelajaran. Dalam pengembangan model pembelajaran,
Sukmadinata (2004) mengemukakan mengenai dasar pemilihan pembelajaran (pendekatan,
model ataupun prosedur dan metode pembelajaran) yaitu: tujuan pembelajaran,
karakteristik mata pelajaran, kemampuan siswa dan guru.
6

Pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif
mahasiswa S1-PGSD didasarkan pada pembelajaran sebagai sistem, yang
mempertimbangkan komponena raw input (mahasiswa S1- PGSD sebagai pelajar orang
dewasa dan guru SD yang memiliki pengalaman mengajar), enviiromental input (tuntutan
lingkungan masyarakat dan perkembangan ipteks terhadap guru dan mahasiswa S1-
PGSD), instrumental input (kebijakan pendidikan guru), kemudian merancang/desain dan
implementasi proses pembelajaran (process), sehingga dihasilakan lulusan yang memiliki
kemampuan reflektif (output).

Kemampuan Reflektif
Kemampuan reflektif sebagai hasil atau output dari pembelajaran yang
dikembangkan pada penelitian ini. didasarkan pada konsep reflektif dari John Dewey
berkenaan dengan kemampuan berfikir reflektif dan bersikap reflektif.
Kemampuan berfikir reflektif terdiri atas lima komponen yaitu: (1) recognize or
felt difficulty/problem, merasakan dan mengidentifikasikan masalah; (2) location and
definition of the problem, membatasi dan merumuskan masalah; (3) suggestion of posible
solution, mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah; (4)
rational elaboration of an idea, mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan
cara mengumpulkan data yang dibutuhkan; (5) test and formation of conclusion,
melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai
bahan pertimbangan membuat kesimpulan.
Sikap reflektif yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berfikir reflektif,
dikembangkan berdasarkan konsep awal dari Dewey yang telah diperluas dan
diaplikasikan oleh beberapa praktisi di bidang pendidikan guru. Dalam artikel jurnal
Teaching and Teacher Education (vol.12.no.1, Januari 1996), Helen L. Harrington cs
mengemukakan dan mengembangkan tiga komponen sikap reflektif yaitu: (1)
openmindedness atau keterbukaan, sebagai refleksi mengenai apa yang diketahui, dalam
pembelajaran ada tiga pola dasar yaitu pola berfokus pada guru, siswa, dan inklusif; (2)
responsibility atau tanggung jawab, sebagai sikap moral dan komitmen profesional
berkenaan dengan dampak pembelajaran pada siswa saja, siswa dan guru, serta siswa,
guru dan orang lainnya; (3) wholeheartedness atau kesungguhan dalam bertindak dan
melaksanakan tugas, dengan cara pembelajaran langsung guru, proses interaktif, dan
proses interaktif yang kompleks.
7

Model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif dikembangkan
berdasarkan pendekatan filosofis konstruktivisme dan psikologi kognitif. Konstruktivisme
dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran
yang didasarkan pada pengalaman (experience is the only basis for knowledge and
wisdom), yang kemudian direorganisasi dan direkonstruksikan. Materi pelajaran harus
memungkinkan siswa belajar bagaimana caranya belajar (learning how to learn) dalam
bentuk studi kasus atau masalah yang perlu dan bermanfaat untuk dicari jalan ke luarnya
(problem solving learning) melalui proses inkuiri diskoveri. Proses pembelajaran berpusat
pada siswa dan keaktifan siswa, guru berperan sebagai fasilitator/mediator dan motivator
yang menstimuli siswa untuk belajar sesuatu yang bermakna melalui pemahaman (insight).
Penilaian dilakukan selama dan akhir proses pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana
siswa. membangun suatu pengetahuan atau konsep.
Dalam penelitian ini, model pembelajaran reflektif dikembangkan berdasarkan
konsep Zeichner dan Liston (1996) berkenaan dengan konsep “critical reflection” yang
terdiri dari tiga tahap/tingkat reflektif yaitu (1) technical level, refleksi dilakukan pada
efisiensi aplikasi pengetahuan dalam bentuk cara atau teknik dalam mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan; (2) contextual level, refleksi dilakukan untuk
menemukan keterkaitan antara situasi problematik dengan tindakan yang dilakukan
melalui aplikasi teori sesuai dengan konteksnya; (3) critical level, refleksi dilakukan
berdasarkan pertimbangan kritis, dan nilai-nilai moral/etis.

Selain kedua kajian teori utamaa tersebut, disajikan pula secara singkat tentang
strategi kebijakan pendidikan guru SD didasarkan pada fakta bahwa kondisi objektif
jumlah dan sebaran guru SD di Indonesia sangat kompleks dengan latar belakang
pendidikan dan sosial budaya yang beragam. PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, dan Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,
mensyaratkan kualifikasi pendidikan minimal guru SD ditetapkan sekurangnya sarjana
(S1) atau D4, dan telah mendapat sertifikat pendidik sebagai guru SD melalui pendidikan
profesi. Hal ini membawa implikasi besar dalam pengadaan guru SD. Ditjen Dikti
mengembangkan minimal dua jenis program S1-PGSD yaitu pendidikan pra-jabatan guru
terintegrasi, dan program sertifikasi bagi guru SD yang sudah berkualifikasi S1 agar dapat
menguasai kompetensi profesional guru kelas SD melalui uji kompetensi.
8

Kompetensi guru seperti yang dikemukan pada PP No.19 tahun 2005 meliputi
empat kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
profesional, dan kompetensi sosial. Selanjutnya secara lebih spesifik, standar kompetensi
guru kelas (SKGK) SD/MI lulusan S1 PGSD ( 2006) terdiri atas empat rumpun
kompetensi yaitu:
1. Kemampuan memahami peserta didik secara mendalam
Meliputi pemahaman secara mendalam tentang karakteristik intelektual, sosial, emosional,
dan fisik, serta latar belakang peserta didik sebagai landasan bagi guru atau calon guru
agar mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.
2. Kemampuan menguasai bidang studi
Meliputi penguasaan substansi dan metodologi bidang ilmu (disciplinary content
knowledge) yang bersangkutan, serta kemampuan memilih dan mengemas bidang ilmu
tersebut menjadi bahan ajar sesuai dengan konteks kurikulum dan kebutuhan pesera didi
(pedagogical content knowledge).
3. Kemampuan menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
Meliputi kemampuan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, kemampuan
mengases (menilai) proses dan hasil pembelajaran, serta kemampuan menindaklanjuti
hasil asesmen untuk perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.
4. Mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan
Menekankan kemampuan guru dalam memanfaatkan setiap peluang untuk belajar
meningkatkan profesionalitas sehingga pembelajaran yang dikelolanya selalu
mengedepankan kemaslahatan peserta didik.
Standar kompetensi guru ini diperlukan sebagai landasan dan pedoman uji
kompetensi. Berkaitan dengan penelitian ini, maka kemampuan reflektif merupakan salah
satu bentuk kompetensi yang perlu dikuasai oleh guru SD dalam menjalankan tugas
secara profesional menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang demikan
pesat di era globalisasi abad 21. Dalam Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI lulusan
S1-PGSD (Depdiknas, 2005), kemampuan reflektif termasuk dalam rumpun kompetensi
pedagogik (merancang, melaksanakan dan menilai proses dan hasil pembelajaran),
kompetensi kepribadian (mengkaji strategi berfikir reflektif dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi), kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki
pembel-ajaran melalui penelitian tindakan kelas). Juga secara implisit termasuk
9

kompetensi sosial sebagai dampak pengiring melakukan refleksi dengan bantuan teman
secara kolaboratif atas pembelajaran yang dilaksanakannya.
Dengan adanya unsur kemampuan reflektif pada keempat rumpun kompetensi
guru kelas SD/MI lulusan S1-PGSD, maka dapat disimpulkan kemampuan reflektif
merupakan salah satu kemampuan esensial dalam pembinaan kompetensi dan profesional
guru. Dengan meningkatnya kemampuan reflektif, mahasiswa S1 sebagai guru SD dapat
mengembangkan diri pribadi dan karir profesionalnya. Hal ini dikarenakan pada
hakekatnya mengajar merupakan praktek reflektif (Ginsburg and Clift, 1990:454-455)
ataupun refleksi belajar (Dunkin & Biddle, 1974: 21-24), dan perlunya calon guru
terlebih dulu belajar dari pengalaman. (LaBoskey,1993). Kemampuan reflektif
memungkinkan guru SD merefleksikan pengalaman mengajarnya dan mengambil hikmah
atau belajar dari pengalaman, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki dan
meningkatkan mutu dalam melaksanakan tugas sebagai guru secara profesional.

Demikian pula kajian teori berkenaan dengan matakuliah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) membahas mengenai konsep dasar PTK dan proposal PTK. Berdasarkan beberapa
definisi PTK (McNiff dalam Sukidin, 2002:14) dan Mills (2000:6) disimpulkan penelitian
tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang bersifat reflektif, dilakukan oleh guru untuk
meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk
memperbaiki atau meningkatkan kondisi praktek pembelajaran di kelasnya.
Adapun prinsip PTK antara lain: PTK tidak berdampak mengganggu komitmen guru
sebagai pengajar, pelaksanaan PTK tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru
sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran, metodologi yang digunakan harus cukup
reliabel sehingga dapat dipertanggungjawabkan, masalah PTK merupakan hal yang cukup
merisaukan guru untuk diatasi melalui tindakan perbaikan sebagai bentuk tanggung jawab
profesional, dan dalam pelaksanaan guru mengikuti prosedur etika penelitian.
Salah satu model PTK yang dikembangkan di Indonesia adalah modifikasi model
sistem spiral refleksi diri dari Kemmis dan Taggart yang terdiri dari:
1. Rencana (plan): analisis masalah dan strategi perencanaan
2. Kegiatan (action): implementasi strategi yang direncanakan
3. Pengamatan (observation): deskripsi kegiatan dengan menggunakan teknik tertentu
4. Refleksi (reflection): evaluasi proses dan hasil sebagai masukan bagi siklus selanjutnya.
10

Selanjutnya, proposal PTK sebagai usulan penelitian pada dasarnya memiliki unsur
atau komponen sebagai berikut: judul penelitian,ang ilmu, pendahuluan, perumusan masalah,
tinjauan pustaka, tujuan penelitian, kontribusi penelitian, metode penelitian, jadwal
pelaksanaan, sertta lampiran yang diperlukan dan relevan.

Dengan deskripsi kajian teori ini, maka dapat disimpulkan bahwa kajian teori utama
mengenai pengembangan model pembelajaran dan kemampuan reflektif menjadi dasar dan
acuan dalam mengembangkan model pembelajaran dan mengembangkan instrumen
kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif). Selanjutnya kajian teori dan data
mengenai strategi kebijakan pendidikan guru (SD) dan penelitian tindakan kelas
melatarbelakangi secara kontekstual di mana model pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan reflektif tersebut dikembangkan.

C. METODE PENELITIAN
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan
pengembangan (research and development), yang terdiri dari tiga langkah yaitu studi
pendahuluan, perencanaan dan pengembangan, serta validasi model pembelajaran. Secara
visual dapat dilihat pada gambar berikut.

11

12

Pada pembahasan metode penelitian disajikan pula mengenai subjek dan lokasi
penelitian, serta pengembangan instrumen, teknik pengumpulan dan analisis data.

Tabel 1. Lokasi dan subjek penelitian:

No Program S1-PGSD Dsn Mhs.
tdft diolh
Kls
PTK
Ujicb
Trbts
Ujicb
Luas
UjiVld
eks-ktr
1. Kampus Cibiru 2 32 28 1 V
2. Kampus Purwakarta 2 60 46 2 V - V
3. Kampus Serang 2 61 49 2 V - V
4. Kampus Tasikmalaya 2 82 68 3 V V - V
5. Univ.Negeri Jakarta 2 43 26 2 V - V
6. Atma Jaya Jakarta 1 23 11 1 V
Jumlah 10 301 226 10 1 2 4 - 4

Pemilihan lokasi untuk ujicoba terbatas, ujicoba luas dan uji validasi didasarkan
pada data jumlah kelas rombongan belajar, serta kesiapan dosen yang menjadi mitra
kolaborasi dalam penelitian dan pengembangan ini. S1-PGSD UPI kampus Sumedang
tidak digunakan karena berdasarkan hasil survei awal, S1-PGSD di sana bukan terutama
menyiapkan guru kelas SD tetapi guru olahraga SD,
Pengembangan instrumen kemampuan reflektif: diawali dengan penyusunan kisi-
kisi yang memperhatikan tujuan pembelajaran, indikator, kemudian mengembangkan soal
dan pernyataan. Setelah itu dilakukan ujicoba pertama, validasi ahli, dan ujicoba kedua,
akhirnya ditetapkan soal tes berpikir (5 soal), dan skala sikap reflektif (40 pernyataan)
yang valid dan reliabel.
Teknik dan alat pengumpulan data: penelusuran dokumen untuk mendapatkan
data akurat mengenai kondisi PGSD; wawancara dengan pimpinanatau ketua program
studi, kuesioner kepada dosen dan mahasiswa mengenai proses pembelajaran, observasi
pelaksanaan/implementasi pembelajaran dan pengembangan model pembelajaran; tes
esei dan skala sikap untuk mengetahui kemampuan berfikir dan sikap reflektif
mahasiswa. .Analisis data dsesuaikan dengan data yang dikumpulkan, ada yang dianalisis
secara deskriptif kualitatif, dan ada juga yang dianalisis secara kuantitatif menggunakan
statistik non-parametrik (analisis Wilcoxon Signed ranks test dan Mann Whitney test)
13

D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian berupa deskripsi dan interpretasi dikelompokan berdasarkan
tahapan dalam penelitian pengembangan yaitu: (1) hasil studi pendahuluan, (2)
perencana mempersiapkan format pan dan pengembangan model pembelajaran, serta (3)
validasi model pembelajaran. Diakhiri dengan rangkuman mengenai pengembangan
model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD
pada matakuliah PTK dalam bentuk bagan/gambar.

1. Studi Pendahuluan
Hasil studi pendahuluan terdiri dari dua bagian yaitu: (1) hasil survei awal
sebagai studi lapangan/empiris, dan (2) konsep awal desain model pembelajaran
sebagai hasil studi literatur yang dikaitkan dengan hasil survei awal.

a. Kondisi pembelajaran program S1-PGSD (saat survei awal)
Survei awal bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pembelajaran termasuk
faktor pendukung dan penghambat di 8 program S1-PGSD yang menjadi lokasi dan
populasi dalam penelitian ini. Dilakukan secara efektif selama bulan September 2004,
dan hasilnya dapat disimpulkan sebagai berikut.
- Data umum: deskripsi mengenai latar belakang, visi, misi dan tujuan S1-PGSD,
keadaan dosen dan mahasiswa, kurikulum dan pembelajaran, kendala dan upaya
meningkatkan mutu pembelajaran.
- Dosen cukup banyak jumlahnya, namun tidak semua dosen dapat bekerja secara penuh
karena mengajar di tempat lain atau studi lanjut. Dosen berpendapat, pembelajaran dan
kemampuan reflektif bermanfaat dan dibutuhkan oleh mahasiswa S1-PGSD.
- Mahasiswa berasal dari program D2-PGSD, sudah dewasa, guru SD, punya
pengalaman mengajar. Mahasiswa berpendapat, pembelajaran di S1-PGSD
bermanfaat, namun tidak semua dosen membahas hasil ujian atau tugas yang
diberikan. Maha-siswa belum terbiasa menilai kegiatan belajarnya sendiri.
- Berdasarkan kondisi pembelajaran, khususnya penelusuran dokumen mengenai
kurikulum, wawancara dengan ketua program, dosen, dan konsultasi dengan
pembimbing, maka dipilih mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), serta
ditetapkannya kelas ujicoba terbatas dan luas, maupun validasi dalam pengembangan
model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa.

b. Konsep awal model pembelajaran
Konsep awal model pembelajaran dikembangkan berdasarkan; (1) komponen
pembelajaran sebagai system, (2) kajian teori mengenai kemampuan berfikir dan sikap
reflektif, dan (3) kondisi pembelajaran hasil survei awal. Adapun konsep awal model
pembelajaran disajikan dalam gambar berikut ini.














Gambar 2. Konsep Awal Model Pembelajaran

Konsep awal model pembelajaran tersebut dapat diterapkan dalam konteks
pembelajaran yang nyata, apabila dijabarkan lebih lanjut melalui penyusunan desain
pembelajaran (SAP), yang terdiri dari tujuan, pokok materi, prosedur, sumber dan
media, serta evaluasi pembelajaran. Implementasi pembelajaran difokuskan pada tiga
tahap pembelajaran yakni: (1) tahap reflektif teknikal, menggunakan berbagai
teknik/metode untuk memahami materi yang dipelajari; (2) tahap reflektif kontekstual,
mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi lain atau pengalaman; (3) tahap
reflektif kritikal, menganalisis secara kritis materi/masalah yang didiskusikan. Evaluasi
proses pembelajaran dan hasil belajar kemampuan reflektif, serta tindak lanjut untuk
perbaikan pembelajaran selanjutnya.
Instrumental Input
- Strategi kebijakan pendidikan guru SD
- Program dan kurikulum; sarana dan
fasilitas; penilaian pembelajaran.
- Personil (kaprodi, dosen, tata usaha)
Output
Kemampuan reflektif
mahasiswa meningkat
PROSES PEMBELAJARAN
1. Tahap Reflektiff Teknikal
2. Tahap Reflektif Kontekstual
3. Tahap Reflektif Kritikal
Raw Input
Mahasiswa S1-PGSD
-
Enviromental Input
Tuntutan masy dan perkembangan Ipteks abac 21
-

14

15

2. Perencanaan dan Pengembangan Model Pembelajaran
Perencanaan dan pengembangan model pembelajaran melalui ujicoba
terbatas dilakukan di program S1-PGSD Cibiru. Setelah mendapat ijin, mempelajari
silabus dan sumber pustaka matakuliah PTK, mendiskusikan dengan dosen pengampu
matakuliah tersebut, menyusun jadwal dan rencana pembelajaran. Ujicoba terbatas
dilakukan melalui empat putaran pembelajaran. Hasilnya dirangkum sebagai berikut.
- Pentingnya menciptakan interaksi dan suasana kondusif dalam pembelajaran
- Prosedur pembelajaran: 3 jadi 5 tahap (ditambah tahap persiapan dan pemantapan)
- Metode: mahasiswa diberi kesempatan refleksi diri dan berbagi pengalaman
- Rata-rata hasil belajar tiap putaran tidak selalu meningkat, tapi gain cenderung
meningkat (8,04→7,50 →8,21→10,72)
- Peningkatan kemampuan berpikir reflektif (z=3.819>1.64 & 0.00<0.05), sikap
reflektif (z = 3.824>1.64 & 0.00<0.05)
- Revisi dan penyempurnaan instrumen kemampuan reflektif
- Model Hipotetik Pembelajaran (terlampir pada rangkuman model pembelajaran)

Perencanaan dan pengembangan model pembelajaran melalui ujicoba lebih luas
yang dilakukan di S1-PGSD Tasikmalaya dan S1-PGSD Atma Jaya Jakarta. Ujicoba
lebih luas bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran yang
dikembangkan apabila diimplementasikan di tempat lain dengan kondisi yang
berbeda, dan mendapat masukan untuk penyempuranaan model sehingga siap
divalidasi melalui eksperimentasi. Temuan hasil ujicoba lebih luas melalui 4 putaran
pembelajaran dirangkum sebagai berikut.
- Secara prinsip, desain model tidak mengalami perubahan.
- Lembar evaluasi desain (SAP) sudah tidak digunakan, lembar observasi sebagai
panduan mendeskripsikan implementasi.
- Penting menggali dan memanfaatkan pengalaman mahasiswa
- Pada kelas kecil (11-16 mhs) pembelajaran lebih efektif,
- Dapat diterapkan pada pembelajaran reguler ataupun paket
- Instrumen kemampuan berfikir dan sikap reflektif disempurnakan, dan pengukuran
hasil belajar dan kemampuan reflektif menunjukkan peningkatan yang berarti.
- Model pembelajaran siap validasi (terlampir pada rangkuman pengembangan
model pembelajaran_
16

3. Validasi Model Pembelajaran
Validasi model pembelajaran dilakukan melalui eksperimen di S1-PGSD UPI
kampus Purwakarta, Serang, Tasikmalaya, dan Universitas Negeri Jakarta. Pada
kelompok eksperimen, implementasi model pembelajaran siap validasi melalui tiga
putaran pembelajaran. Putaran 1 penekanan pada tahap reflektif teknikal; Putaran 2,
tahap reflektif kontekstual; Putaran 3 tahap reflektif kritikal. Hasil validasi
membuktikan ada peningkatan gain hasil belajar, dan perbedaan yang signifikan
(lebih besar pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok control
(melaksanakan pembelajaran seperti biasa).
Nilai rata-rata hasil belajar dan pengukuran kemampuan reflektif mahasiswa
S1-PGSD kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada mata kuliah Penelitian
Tindakan Kelas, disajikan dalam bentuk tabel berikut ini.
Tabel 2. Nilai rata-rata hasil belajar mahasiswa S1-PGSD kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
Kel. Eksperimen Kel. Kontrol
S1-PGSD

Ptr. Pre Pos Gain Pre Pos Gain
Purwakarta 1
2
3
Jml
Rata2
65,48
61,67
52,14
179,29
59,76
69,76
68.10
68,10
205,96
68,65
4,28
6,43
15,96
26,67
8,89
62,80
55,80
58,40
170,00
59,00
60,60
60,60
62,40
183,60
61,20
-2,20
4,80
4,00
6,60
2,20
Serang 1
2
3
Jml.
Rata2
64,81
59,44
52,22
176,47
58,82
70,93
68,33
69,63
208,89
69,63
6,12
8,89
17,41
32,42
10,81
67,27
62,05
58,64
187,96
62,65
70,45
67,05
62,50
200,00
66,67
3,18
5,00
3,86
12,04
4,02
Tasikmalaya 1
2
3
Jml.
Rata2
71,67
63,33
60,83
195,83
65,28
75,00
70,05
71,83
216,88
72,29
3,33
6,72
11,00
21,00
7,02
65,77
60,38
56,35
182,50
60,83
69,81
62,69
62,12
194,62
64,87
4,04
2,31
5,77
12,12
4,04
U.N..Jakarta 1
2
3
Jml.
Rata2
57,50
62,81
59,06
179,37
59,79
65,94
69,69
69,06
204,69
68,23
8,44
6,88
10,00
25,32
8,44
64,00
61,50
63,00
188,50
62,83
67,00
67,50
69,50
204,00
68,00
3,00
6,00
6,50
15,50
5,17

Jumlah seluruhnya
Jumlah rata-rata
Rata-rata
730,96
243,65
60,88
836,42
278,80
69,70
105,46
35,16
8,79
735,96
245,31
61,33
782,22
260,74
65,19

46,26
15,43
3,86

17

Tabel 3. Hasil pengukuran kemampuan reflektif (berpikir dan sikap reflektif)
mahasiswa program S1-PGSD kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

Kel, Eksperimen Kel. Kontrol
S1-PGSD
Wilcoxon Signed
Ranks Test Berpikir Sikap Berpikir Sikap
Ranks:
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total

0
18
3
21

3
15
3
21

6
12
7
25

14
10
1
25
Purwakarta
Z
Asymp.Sig.
-3.751
0.000
-3.378
0.001
-0.995
0.320
-0.286
0.775
Ranks:
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total

0
25
2
27

3
23
1
27

5
12
5
22

10
10
2
22
Serang

Z
Asymp.Sig.
-4.387
0.000
-3.969
0.000
-2.416
0.016
-0.168
0.866
Ranks:
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total

0
26
4
30

6
20
4
30

0
23
3
26

8
17
1
26
Tasikmalaya

Z
Asymp.Sig.
-4.502
0.000
-3.653
0.000
-4.285
0.000
-2.440
0.015
Ranks:
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total

0
16
0
16

3
10
3
16

0
9
1
10

2
7
1
10
Unv.Neg.Jakarta
Z
Asymp.Sig.
-3.551
0.000
-1.262
0.207

-2.724
0.006
-1.602
0.109

Ranks:
Negative Ranks
Positive Ranks
Ties
Total

0
85
9
94

15
68
11
94

11
56
16
83

34
44
5
83

Keseluruhan


Z
Asymp.Sig.

-8.053
0.000
-6.437
0.000
-5.029
0.000
-2.109
0.035

18


19

























MATERI
- Konsep dasar & penyu
sunan proposal PTK
- Pengalaman mgj mhs
EVALUASI
- Proses pembelajaran
- Hasil belajar &kemam
puan reflektif
PROSEDUR
1. Tahap Persiapan
- Menciptakan hubungan baik agar mahasiswa berani dan mau meng ungkap-
kan pendapat dan pengalaman mengajar di SD
- Menjelaskan tujuan, materi, kegiatan, appesepsi, bahas tugas sebelumnya.
TUJUAN
Meningkatkan kemampuan
reflektif nahasiswa



2. Tahap Reflektif Teknikal
- Menggunakan berbagai teknik (metode/media/contoh) agar mahasiswa
memahami konsep dasar PTK dan penyusunan proposal PTK.







3. Tahap Reflektif Kontekstual
- Mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman mhs
- Sharing dan diskusi pengalaman/permasalahan mengajar di SD
- Refleksi diri dan mengemukakan masalah yang akan diteliti









4. Tahap Reflektif Kritikal
- Diskusi pertanyaan/permasalahan, alternatif penyebab dan solusi
- Menganalisis kelaikan tindakan, menetapkan kriteria dan indikator






5. Tahap Pemantapan
- Merangkum materi yang dipelajari, refleksi diri mengambil manfaat/hikmah
- Mengerjakan tugas/soal evaluasi dengan tanggung jawab dan kesungguhan
- Motivasi melakukan refleksi pembelajaran (reflective in/on/for teaching)




Gambar 3. Desain Akhir Model Pembelajaran
20


MODEL AKHIR PEMBELAJARAN
Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas

Desain Pembelajaran
1. Tujuan: meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD
2. Materi: sesuai dengan pokok-pokok materi pada silabus (konsep
dasar/teori PTK dan penyusunan proposal PTK), pengalaman
mahasiswa mengajar di SD. Sumber: buku PTK, pedoman proposal
PTK/skripsi, pustaka relevan dengan masalah, dan pengalaman
mahasiswa mengajar di SD.
3. Prosedur pembelajaran: tahap persiapan, reflektif teknikal, reflek-tif
kontekstual, reflektif kritikal, dan pemantapan.
4. Evaluasi: evaluasi proses pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar, serta
pengukuran kemampuan berpikir dan sikap reflektif.

Implementasi Pembelajaran
1. Tahap persiapan: menciptakan hubungan baik agar mahasiswa berani
mengemukakan pendapat/pengalaman, menjelaskan tujuan dan pokok
materi, apersepsi, berkaitan dengan pengalamanan mahasiswa, bahas
tugas sebelumnya.
2. Tahap reflektif teknikal: menggunakan bebagai teknik
(metode/media/contoh) agar mahasiswa memahami konsep materi yang
dipelajari.
3. Tahap reflektif kontekstual: mengaitkan materi yang dipelajari dengan
pengalaman mahasiswa, sharing dan diskusi pengalaman/ permasalahan
mengajar di SD, dan melalui refleksi diri setiap ma-hasiswa
mengemukakan masalah yang akan diteliti dengan PTK
4. Tahap reflektif kritikal: mendiskusikan pertanyaan/permasalahan,
alternatif penyebab dan solusi, serta menganalisis kelaikan tindakan,
dan menetapkan kriteria dan indikator.
5. Tahap pemantapan: merangkum materi yang dipelajari, melakukan
refleksi diri mengambil manfaat/hikmah, bertanggungjawab dan
sungguh-sungguh mengerjakan tugas atau pertanyaan/soal evaluasi,
termotivasi untuk senantiasa belajar dan melakukan refleksi mengajar
di SD (refletive in/on/for teaching).

Evaluasi dan Tindak Lanjut Pembelajaran
1. Evaluasi: proses pembelajaran dan hasil belajar, serta pengukuran
kemampuan berpikir dan sikap reflektif.
2. Tindak lanjut pembelajaran: untuk perbaikan pembelajaran
selanjutnya..



































Gambar 4. Model Akhir Pembelajaran
21

22

Pembahasan pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD pada mata kuliah Penelitian
Tindakan Kelas merupakan pembahasan hasil temuan penelitian dibandingkan dengan
kajian teori yang relevan. Pembahasan berkenaan dengan: (1) hakekat model
pembelajaran; (2) model pembelajaran (desain-implementasi-evaluasi); serta (3)
faktor pendukung dan penghambat pengembangan model pembelajaran.

1. Hakekat Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang dikembangkan merupakan suatu strategi atau desain
yang didasarkan pada teori dan penelitian, terdiri dari beberapa komponen yang
berinterfungsi sehingga dapat digunakan sebagai pedoman berkenaan dengan proses
kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu meningkatkan kemampuan
reflektif mahasiswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Oliva (1992:413), Reigelluth
(1983:20), dan Sukmadinata (2004:243). Model pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan reflektif, dilandasi filosofis konstruktivisme dan psikologi kognitif.
Termasuk kelompok model pemrosesan informasi (Joyce & Weil, 1986); pendekatan
kompetensi, kontekstual dan berbasis pengalaman, mencari dan bermakna
(Sukmadinata, 2004); model pendidikan guru berbasis pengalaman/lapangan
(Hamalik, 2002).
Meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa yang menjadi tujuan
pengembangan model ini, berdasarkan SKGK SD/MI lulusan S1-PGSD (Depdik-nas,
2005) termasuk kompetensi pedagogik (kemampuan menilai proses dan hasil
pembelajaran), kompetensi kepribadian (kemampuan menilai kenerja sendiri dengan
mengkaji strategi berfikir reflektif dalam memecahkan masalah yang dihadapi), dan
kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran melalui
penelitian tindakan kelas).
Pengembangan model pembelajaran dilakukan melalui tahap studi
pendahuluan, perencanaan dan pengembangan, serta validasi model pembelajaran
didasarkan pada pembelajaran sebagai sistem yang terdiri dari input-proses-output,
berkenaan dengan desain, implementasi dan evaluasi serta tindak lanjut pembelajaran.
Desain terdiri atas: tujuan, materi atau pokok bahasan serta sumber belajar, prosedur
pembelajaran (tahap persiapan, tahap reflektif teknikal-kontekstual-kritikal, dan tahap
pemantapan), dan evaluasi pembelajaran serta tindak lanjutnya.
23


2. Model Pembelajaran
a. Desain Pembelajaran
Konsep pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan
reflektif ini didasarkan pada konsep teoretis mengenai komponen pendidikan sebagai
sistem (input–proses–output) yang dikemukakan oleh Sukmadinata (2003:9); sistem
pembelajaran (Abdulhak, 2000:23), dan variabel pengajaran di kelas (Dunklin &
Biddle,1974:38). Dikembangkan sesuai dengan kondisi yang ada, yaitu dengan
memperhatikan karakteristik mahasiswa (lulusan D-2, dewasa, guru SD, punya
pengalaman mengajar), tuntutan masyarakat dan perkembangan ipteks abad 21 (guru
harus profesional dan kompeten), serta masukan instrumental (strategi kebijakan
pendidikan guru SD dan pembelajaran, program dan kurikulum pendidikan guru,
sarana dan fasilitas pembelajaran, penilaian pembelajaran, serta personil khususnya
kemampuan dosen).
Peningkatan kemampuan reflektif mahasiswa yang menjadi tujuan
pengembangan model ini sesuai dengan SKGK SD/MI lulusan S1-PGSD (Depdiknas,
2005) termasuk kompetensi pedagogik (kemampuan menilai proses dan hasil
pembelajaran), kompetensi kepribadian (kemampuan menilai kenerja sendiri dengan
mengkaji strategi berpikir reflektif dalam memecahkan masalah yang dihadapi), dan
kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran melalui
penelitian tindakan kelas). Instrumen pengukuran kemampuan berpikir dan sikap
reflektif dikembangkan dari konsep reflective thinking (Dewey, 1993). Prosedur
pembelajaran dikembangkan berdasar-kan tiga tingkat reflektif dalam critical
reflection (Zeichner dan Liston, 1996).
Desain model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif, terdiri
dari: tujuan, materi dan sumber, prosedur, dan evaluasi pembelajaran (Tyler, 1949).
Apabila dibandingkan dengan model pembelajaran reflektif (Poblete, 1999), maka
model pembelajaran yang dikembangkan merupakan proses inkuiri dalam mengatasi
masalah pembel-ajaran mahasiswa sebagai guru SD; tidak hanya mengembangkan
kemampuan berpikir reflektif, tetapi juga mengembangkan sikap reflektif mahasiswa
(openmindedness, responsibility, wholeheartedness); prosedur pembelajaran terdiri
dari tahap persiapan, reflektif teknikal, reflektif kontekstual, reflektif kritikal, dan
pemantapan.
24

b. Implementasi Pembelajaran
Implementasi pembelajaran merupakan penerapan desain dalam pelaksanaan
proses pembelajaran, difokuskan pada prosedur pembelajaran yang terdiri dari tahap
reflektif teknikal, kontekstual, dan kritikal sesuai dengan tingkatan reflektif yang
dikemukakan Zeichner dan Liston (1996). Pada tahap reflektif teknikal, refleksi
dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik/cara agar mahasiswa memahami
materi yang dipelajari. Pada tahap reflektif kontekstual, refleksi dilakukan dengan
menemukan keterkaitan antara situasi problematik dengan tindakan yang dilakukan.
Pada tahap relfektif kritikal, refleksi dilakukan berdasarkan pertimbangan kritis dan
etis berkenaan dengan materi/permasalahan yang dipelajari..
Ketika diimplementasikan, ditemukan beberapa hal yang mengakibatkan
desain pembelajaran yang telah direncanakan semula mengalami revisi dan
penyempurnaan, diantaranya:
- Pentingnya menciptakan interaksi personal yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat
Raths (1986) mengenai pembelajaran berpikir (teaching for thinking) bahwa salah
satu tugas guru adalah menciptakan iklim kondusif untuk berpikir, sehingga
mahasiswa menjadi aktif dan berani bertanya/berdiskusi berkenaan dengan materi
yang dipelajarinya.
- Pentingnya upaya menggali dan memanfaatkan pengalaman mengajar mahasiswa
karena membuat pembelajaran menjadi relevan dan bermakna sehingga dapat
mengajar lebih baik/bermutu. Pengalaman sebagai dasar pembelajaran hanya
bermakna kalau dilakukan refleksi sehingga orang dapat belajar dari pengalamannya
(Stones, 1994); belajar melalui pengalaman banyak terjadi dalam pembelajaran orang
dewasa (Kolb, 1984); sesuai dengan pendekatan model pembelajaran yang banyak
digunakan yaitu discovery and meaningful learning, contextual teaching and
learning), experiential learning (Sukmadinata, 2004).
- Kemampuan reflektif tidak hanya dapat dikembangkan pada ketiga tahap reflektif
saja, tetapi juga pada tahap persiapan (interaksi kondusif, apersepsi) dan tahap
pemantapan (refleksi diri, motivasi untuk mengerjakan tugas/soal evaluasi). Hal ini
dikarenakan pada hakekatnya belajar merupakan refleksi pengalaman yang
berkembang lebih baik (Dewey, 1933); dan semua kegiatan mengajar/pembelajaran
adalah praktek reflektif (Ginsburg & Cliff, 1990).
25

- Materi pembelajaran selain berpedoman pada silabus mata kuliah Penelitian Tindakan
Kelas, juga digali dari pengalaman mahasiswa mengajar di SD.
- Metode pembelajaran, tidak harus bentuk atau metode pembel-ajaran reflektif (Hall,
1996), tetapi metode mengajar biasa dapat digunakan asal mahasiswa diberi
kesempatan untuk melakukan self and shared analysis/ reflection
- Pembelajaran lebih efektif pada kelas yang jumlah mahasiswanya sedikit (<20 orang)
daripada kelas besar, karena setiap mahasiswa mempunyai kesempatan lebih banyak
dalam berpartisipasi aktif dalam belajar. Hal ini sesuai dengan prinsip individualitas
dan aktivitas serta Student Centered Learning di PT (Depdiknas, Dirjen Dikti, 2005).

c. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi proses pembelajaran dilakukan melalui observasi, kemudian
didiskusikan secara kolaboratif, hasilnya dideskripsi-kan secara kualitatif dan
digunakan sebagai masukan dan tindak lanjut bagi pembelajaran berikutnya. Hal ini
sesuai dengan langkah ke 4-7 penelitian pengembangan (Borg and Gall, 1993) yaitu
preliminary field testing, main product revision, main field testing, dan operational
product revision yang bertujuan mengoptimalkan model pembelajaran yang
dikembangkan.
Evaluasi hasil belajar berkenaan dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang
ditetapkan pada setiap putaran pembel-ajaran, diberikan dalam bentuk menjawab
pertanyaan atau tugas yang relevan. Hasilnya ternyata nilai rata-rata ujicoba (putaran
1-4 dan 5-8), maupun validasi (putaran 1-3) berfluktuasi, karena tingkat kesukaran
materi setiap pokok bahasan yang dipelajari tidak sama, namun bila dicermati
ternyata gain antara pre dan pos tes tiap putaran cenderung meningkat, berarti
pembelajaran yang dikembangkan cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar
mahasiswa.
Pengukuran kemampuan berpikir maupun sikap reflektif menggunakan tes esei
dan skala sikap reflektif dari konsep reflective thinking (Dewey, 1933),
dikembangkan melalui uji coba instrumen (dua kali), dan diantaranya dilakukan
validasi ahli untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas instrumen. Kegiatan ini
sesuai dengan prosedur penyusunan instrumen penelitian (Arikunto,1993). Kemudian
dianalisis dengan statistik non-parametrik (Wilcoxon Signed Ranks Test dan Mann-
Whitney Test), hasilnya menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Hal ini
26

berarti terdapat perbedaan yang bermakna setelah menggunakan model
pembelajaran..

3. Faktor Pendukung – Penghambat
a. Karakteristik mata kuliah PTK (Depdikbud, 1996) yang tujuan dan materinya
sejalan dengan kemampuan reflektif yang akan ditingkatkan melalui pengembangan
model pembelajaran, tetapi menjadi faktor penghambat kalau tidak cermat karena
ada unsur penelitian (materi mata kuliah PTK) di dalam penelitian. (penelitian dan
pengembangan).
b. Lokasi dan subjek penelitian yang tersebar di beberapa tempat/kota. Walaupun
peneliti mendapatkan wawasan yang lebih luas, tetapi cukup merepotkan dan
melelahkan karena tidak dapat melakukan observasi pembelajaran secara optimal.
c. Dosen pengampu mata kuliah PTK hampir semuanya ketua program S1-PGSD,
sehingga perubahan perencanaan dan implementasi model pembelajaran dapat lebih
mudah, tetapi menjadi faktor penghambat karena tidak mempunyai cukup wakt
membuat desain (SAP) secara rinci dan tertulis, memberi-kan laporan observasi
implementasi pembelajaran, dan melakukan koreksi hasil belajar dan tes esei
berpikir reflektif.
Dosen telah berpengalaman melakukan dan membimbing mahasiswa menyusun
skripsi dengan PTK. Hal ini sangat membantu peneliti maupun mahasiswa dalam
mengimplemen-tasikan model pembelajaran yang dilakukan secara siklikal dan
kolaboratif, akan tetapi ada beberapa dosen yang memiliki persepsi dan cara serta
gaya mengajar yang kadang agak sedikit sulit menerapkan secara konsisten tahapan
model pembelajaran yang direncanakan.
Dosen mata kuliah PTK mengajar dalam bentuk team teaching, sehingga proses
diskusi secara kolaborasi mendapat lebih banyak masukkan dan pandangan, tetapi
tim dosen kadang sulit untuk bertemu/berdiskusi secara lengkap, sehingga masukkan
dilakukan secara individual kemudian dirangkum oleh peneliti dalam penyusunan
desain/SAP putaran selanjut-nya, dan didiskusikan secara singkat sebelum
implementasi putaran pembelajaran selanjutnya.
d. Mahasiswa program S1-PGSD berasal dari lulusan program D2-PGSD, bekerja
sebagai guru SD, dan sebagian sudah berkeluarga. Kondisi mahasiswa ini dapat
menjadi faktor pendukung karena mahasiswa memiliki pengalaman mengajar
27

sebagai guru SD sehingga dalam implementasi pembelajaran mahasiswa lebih aktif
terlibat, didasarkan kontekstual peng-alaman mengajar yang nyata, dan mendapat
manfaat mempelajari PTK, tetapi menjadi penghambat karena keku-rangan waktu
untuk belajar dan mengerjakan tugas.
Jumlah mahasiswa yang melanjutkan dari program D2 ke S1-PGSD tidak terlalu
banyak dan tidak mendapat bantuan biaya studi, sehingga raw material mahasiswa
S1-PGSD lebih mampu secara akademis dan termotivasi untuk meningkatkan
dirinya. Namun menjadi penghambat karena mereka lebih dibekali dengan
keterampilan praktis mengajar bukan pada pembekalan konsep teori seperti
mahasiswa jalur akademik S1 sehingga mengalami keterbatasan ketika melakukan
kajian teoretis atas masalah yang diteliti.
e. Sarana prasarana, walaupun di beberapa program S1-PGSD sudah memiliki
perpustakaan, laboratorium MIPA, komputer namun dalam kenyataannya koleksi
buku perpustakaan sudah banyak yang kadulawarsa dan tidak mencukupi, mahasiswa
juhs kekurangan waktu dan biaya memanfaatkan fasilitas belajar tersebut.
f. Evaluasi pembelajaran meliputi evaluasi proses pembelajaran, hasil belajar, dan
pengukuran kemampuan reflektif.
Evaluasi proses pembelajaran tidak dapat dilakukan peneliti secara optimal karena
lokasi penelitian yang cukup berjauhan dan waktu pelaksanaannya pun hampir
bersamaan. Namun dengan bantuan dan kerjasama dari ketua program studi maupun
tim dosen PTK, observasi proses pembelajaran dapat terlaksana dan dijadikan
masukan pembelajaran selanjutnya.
Evaluasi hasil belajar dalam bentuk pertanyaan ataupun tugas yang relevan dengan
tujuan dan pokok bahasan setiap putaran disusun oleh bersama, hasilnya dijadikan
masukkan bagi perbaikan putaran pembelajaran selanjutnya.
Pengukuran kemampuan reflektif mengalami hambatan saat menjawab dan
mengumpulkan hasil tes esei berpikir reflektif (tidak semua mahasiswa mengerjakan
tugas dan mengumpul-kan tepat waktu). Demikian juga ketika koreksi, walau sudah
ada kriteria, tapi dosen mata kuliah sebagai korektor kedua kadang mempunyai
persepsi berbeda, dan tidak cukup waktu untuk melaksanakan inter-rater reliability.
Pengumpulan dan analisis data hasil skala sikap reflektif tidak terlalu banyak kendala
karena dikerjakan di kelas dan langsung dikumpulkan, kemudian diolah/dianalisis
dengan bantuan program SPSS.
28


E. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
a.Rangkuman temuan hasil penelitian, berkenaan dengan permasalahan dan
pertanyaan penelitian yaitu mengenai kondisi pembelajaran program S1-PGSD,
model desain pembelajaran, implementasi model pembelajaran pada mata kuliah PTK,
dan dampak model pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar dan kemampuan
reflektif mahasiswa. (Catatan: telah disajikan pada bagian D. Hasil Penelitian).

b.Karakteristik, keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran
Karakteristik model pembelajaran:
- Model pembelajaran dikembangkan melalui tiga langkah penelitian dan
pengembangan (studi pendahuluan, perencanaan dan pengembangan, validasi) pada
matakuliah Penelitian Tindakan Kelas; didasarkan pada pendekatan pembelajaran
sebagai sistem (input–proses-output) yang terdiri dari beberpa komponen yang
berinterfungsi untuk mencapai tujuan; berkenaan dengan desain–implementasi-
evaluasi dan tindak lanjut secara siklikal melalui 3-4 putaran pembelajaran.
- Model desain pembelajaran terdiri dari: tujuan pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan reflektif mahasiswa yaitu mampu memahami konsep materi (reflektif
teknikal), mengaitkannya dalam konteks pengalaman mengajar mahasiswa (reflektif
kontekstual), dan menganalisis secara kritis materi dan permasalahan yang dipelajari
pada pokok bahasan PTK (reflektif kritikal); materi sesuai dengan pokok materi pada
silabus dan pengalaman mengajar mahasiswa di SD; prosedur pembelajaran terdiri
dari tahap persiapan, reflektif teknikal, reflektif kontekstual, reflektif kritikal, dan
pemantapan; serta evaluasi. proses pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif
dengan mitra peneliti, hasil belajar mahasiswa menguasai materi yang dipelajari setiap
pertemuan, serta pengukuran kemampuan reflektif melalui tes kemampuan berfikir
reflektif dan skala sikap reflektif yang diberikan pada awal dan akhir (pre dan test).
- Implementasi model pembelajaran dilakukan secara siklikal melalui beberapa
putaran pembelajaran, difokuskan pada prosedur pembelajaran yang terdiri dari: (1)
tahap pesiapan: menciptakan hubungan yang baik sehingga mahasiswa berani
mengemukakan pengalaman dan pendapatnya;(2) tahap reflektif teknikal:
menggunakan berbagai teknik/metode untuk mema-hami materi yang dipelajari; (3)
29

tahap reflektif kontekstual: mengaitkan materi dengan pengalaman mengajar
mahasiswa, sharing, diskusi, refleksi diri; (4) tahap reflektif kritikal: mendiskusikan
pertanyaan/permasalahan, alternatif penyebab dan solusi, serta menganalisis
kelaikan tindakan, dan menetap-kan kriteria/indikator; (5) tahap pemantapan:
merangkum materi, melakukan refleksi diri mengambil manfaat/hikmah,
mengerjakan tugas dan evaluasi hasil belajar, motivasi untuk melakukan refleksi
pembelajarannya (reflection in/on/for teaching).
- Evaluasi: evaluasi proses pembelajaran, hasil belajar, dan kemampuan reflektif.
Evaluasi proses pembelajaran dideskripsikan berdasarkan hasil observasi, dan
diskusikan secara kolaboratif antara peneliti dengan dosen bersangkutan, hasilnya
sebagai masukan bagi perbaikan pembelajaran selanjutnya. Evaluasi hasil belajar
dilakukan pada setiap putaran pembelajaran untuk mengetahui pencapaian tujuan
pembelajaran setiap pokok bahasan. Pengukuran kemampuan reflektif dilakukan
dengan mengerjakan tes esei berpikir reflektif, dan skala sikap reflektif. Tindak
lanjut pembelajaran dilakukan berdasarkan hasil evaluasi proses pembelajaran dan
evaluasi hasil belajar untuk perbaikan selanjutnya.

Keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran:
- Mampu meningkatkan hasil belajar dan kemampuan reflektif mahasiswa (terbukti dari
hasil pengukuran kemampuan reflektif pada tahap ujicoba terbatas, ujicoba lebih luas
maupun validasi melalui eksperimen), walaupun peningkatan sikap reflektif tidak
terlalu besar dan masih memerlukan waktu agak lama.
- Materi didasarkan pada pokok bahasan silabus PTK dan dikaitkan dengan pengalaman
mahasiswa mengajar di SD, sehingga lebih bermakna/bermanfaat membantu
mahasiswa mengatasi dan meningkatkan mutu pembelajaran di SD. Keterbatasannya
tidak semua mahasiswa terbiasa merefleksikan pengalamannya agar dapat mengajar
atau mengelola pembelajaran selanjutnya dengan lebih baik.
- Prosedur pembelajaran melalui lima tahap pembelajaran) tidak sulit
diimplementasikan oleh dosen maupun mahasiswa. Berbagai metode mengajar dapat
digunan hanya perlu lebih disadari dan ditekankan pada upaya mempersiapkan
mahasiswa supaya terlibat aktif melalui sharing pengalaman/ permasalahan, menggali
pengalaman mahasiswa, kesempatan untuk melakukan refleksi diri dan dengan teman.
30

- Dapat diterapkan pada pembelajaran regular (perkuliahan tatap muka secara rutin dan
teratur) maupun paket (perkuliahan tatap muka dipadatkan), dan lebih efektif bila
dilaksanakan pada kelas yang jumlah mahasiswanya tidak terlalu banyak. Kalau kelas
dengan jumlah mahasiswa cukup banyak, dapat dibentuk menjadi beberapa kelompok.

Implikasi teori:
- Interaksi personal yang kondusif dapat mengaktifkan dan melancarkan proses
pembelajaran sehingga penting menciptakan hubungan baik dan menggali pengalaman
mahasiswa mengajar di SD, baik di luar maupun di dalam kelas selama proses
pembelajaran berlangsung.
- Pembelajaran berdasarkan pengalaman membuat pembelajaran menjadi lebih
bermakna, sehingga penting menggali pengalaman mahasiswa dalam merancang dan
mengimplementasikan pembelajaran.
- Kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif) dapat dilakukan selama proses
pembelajaran bukan hanya pada tahap reflektif teknikal-kontekstual-kritikal, tetapi
juga pada tahap persiapan dan pemantapan, bahkan pada konsultasi dan sharing
pengalaman di luar perkuliahan tatap muka di kelas.
- Relfeksi pembelajaran dilakukan pada saat terjadi pembelajaran (reflective in
teaching), sesudah pembelajaran (reflective on teaching), dan untuk mengajar
berikutnya (reflection for teaching), melalui self and shared analysis.
- Berpikir reflektif lebih cepat dilihat hasilnya/peningkatannya daripada sikap reflektif
sehingga perlu waktu lebih lama dalam mengembangkan sikap reflektif mahasiswa
melalui tugas-tugas yang diberikan sehingga membuka wawasan mahasiswa,
menumbuhkan tanggung jawab, dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas sebagai
guru kelas di SD.
- Interaksi personal, motivasi, pemantapan dapat meningkatkan kemampuan reflektif
karena mengkondisikan seseorang berfikir dan bersikap reflektif.
- Kemampuan reflektif bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam memperbaiki dan
meningkatkan pembelajaran di SD, karena mahasiswa merefleksikan pengalamannya
dan mengambil hikmah dari pengalaman mengajar untuk dapat mengajar lebih baik.
- Tumbuh sikap reflektif yang memotivasi mahasiswa untuk selalu belajar dan
mengembangkan diri semakin profesional. Sebagai guru kelas SD abad 21 dituntut
senantiasa belajar dari buku maupun pengalamannya sehingga dapat mengajar lebih
31

profesional dan kompeten serta dapat memperbaiki atau meningkatkan mutu
pembelajaran menjadi lebih baik.
Dengan demikian pembelajaran melalui prosedur tahap persiapan, reflektif
teknikal – kontekstual – kritikal, dan pemantapan dapat meningkatkan hasil belajar
dan kemampuan reflektif mahasiswa. Kemampuan berfikir dan sikap reflektif ini
menjadi kemampuan yang wajib dimiliki oleh guru SD sebagai agen pembelajaran
yang profesional dan kompeten dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif,
menyenangkan dan bermutu. Pada akhirnya diharapkan dapat berkontribusi mulai
pada skala kelas, sekolah, daeraj, bahkan nasional dalam memperbaiki dan
meningkatkan mutu pendidikan SD.

2. Rekomendasi
a. Program S1-PGSD agar berupaya meningkatkan kemampuan reflektif melalui
penerapan model pembelajaran dengan lima tahapan pada mata kuliah PTK, dan
memodifikasi untuk mata kuliah lainnya, sehingga dapat lebih mempersiapkan
mahasiswa menjadi guru SD yang bermutu.
b. Dosen PTK agar dapat mengimplementasikan kelima tahap model pembelajaran
untuk meningkatkan kemampuan reflektif serta memotivasi diri maupun mahasiswa
untuk melakukan refleksi diri dan pembelajaran (reflection in/on/for teaching).
c. Mahasiswa S1-PGSD agar dapat memanfaatkan kemampuan reflektif untuk menulis
skripsi, dan termotivasi melakukan refleksi secara terus menerus dalam
pengembangan karir sebagai guru profesional dan dapat meningkatkan mutu SD.
d. Peneliti lain yang tertarik, agar mau melakukan penelitian pada mata kuliah yang
sama di lokasi dan subjek berbeda, pada mata kuliah lain di lokasi dan subjek yang
sama atau berbeda, atau pada jenjang pendidikan berbeda.

Sebagai akhir dari penulisan makalah ini, maka ditegaskan kembali bahwa
pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif diperlukan dan perlu
dikembangkan oleh program studi S1-PGSD dalam mempersiapkan guru SD yang
kompeten dan professional, khususnya dalam upaya merealisasikan pencapaian
kemampuan atau kompetensi sesuai SKGK-SD/MI. Unsur reflektif terdapat di keempat
rumpun kompetensi, secara eksplisit pada rumupun kompetensi pedagogik, kepribadian,
32

profesional, dan secara implisist sebagai dampak pengiring pada rumpun kompetensi
sosial.
Kemampuan reflektif dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai guru SD dalam
mengatasi masalah pembelajaran di kelasnya, atau melakukan perbaikan dan peningkatan
mutu pembelajaran di kelas SD. Tumbuhnya sikap reflektif yang ditunjang dengan
kemampuan berpikir reflektif, memotivasi mahasiswa sebagai guru SD untuk selalu belajar
dan memperbaiki dan meningkatkan diri yang diperlukan bagi pengembangan profesional
guru. Kemampuan berpikir dan sikap reflektif dinyatakan dengan selalu berupaya
mengembangkan diri dan meningkatkan pembelajaran yang dilakukannya (reflection in /
on / for teaching), melalui belajar sepanjang hayat, belajar mengambil hikmah dari
pengalaman melalui self and shared analysis/reflection, dll. Dengan adanya model
pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa program S1-PGSD,
khususnya pada mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas, diharapkan mampu membekali
mahasiswa S1-PGSD sebagai guru SD dalam mengantisipasi dan mengatasi permasalahan
pembelajaran di kelas akibat perkembangan yang pesat, sehingga dapat menjadi guru
profesional dan kompeten sesuai dengan tuntutan profil guru abad 21.


REFLECTIVE IN / ON / FOR TEACHING IS NEEDED
IN TEACHER PROFESSIONAL DEVELOPMENT
33

DAFTAR PUSTAKA


Abdulhak, I. (2000). Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa. Bandung: Andira.

Arikunto, S. (1993). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Borg, W.R. & Gall, M.D. (1983). Education Research : An Introduction. New York &
London: Longman.

Calderhead, J. & Gater, P. (1995). Conceptualizing Reflection in Teacher Development. The
Palmer Press.

Depdikbud. (1996/1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen
Dikti BP3GSD.

Depdiknas. (2002). Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad ke-21
(SPTK-21). Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2003). Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) 2003 (UU RI
No.20. Tahun 2003). Jakarta: Sinar Grafika

Depdiknas. (2005). Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI, Lulusan S1 PGSD Jakarta:
Dirjen Dikti DP2TK.

Dewey, J. (1933). How We Think, A Restatement of the Relation of Reflective Thinking to the
Education Process. Chicago: Henry Regne.

Dunkin, M.J. & Biddle, B.J. (1936), The Study of Teaching, New York & Sydney: Holet,
Rinehart and Winston, Inc.

Ginsburg, M.B. & Clift. (1990). The Hidden Curriculum of Preservice Teacher Education.
Hand book of Research on Teacher Education. London: Collier Macmillan Pub.

Harrington, H.L. et.al. (1996). Written Case Analyes and Critical Reflection. Teaching and
Teacher Education: An International Journal of Research and Studies. Vol.12 no.1.
January, 1996.

Joice, B. & Weil, M. (1986). Models of Teaching. New Jersey: Prentice Hall Inc. Englewood
Cliffs.

LaBoskey, V.K. Why Reflection in Teacher Education?. Teaching and Teacher Education:An
International Journal of Research & Studies.Vol.12 no.1. 1996.

Oliva, P.F. (1992). Developing the Curriculum. New York: Harper Collins.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

34

Pintrich, P.R. (1990). Implications of Psychological Research on Student Learning and
College Teaching for Teacher Education. Handbook of Research on Teacher
Education. London: Collier Macmillan Pub.

Poblete, D.P. (1999). A Reflective Teaching Model: An Adventist Assesment, Michigan:
Andrews University. Tersedia: http://www.aiias.edu/ict/ vol24/ 24cc_ 257-276.htm
[02/06/04].

Pollard, A. & Tann, S. (1987). Reflective Teaching in the Primary School: A Handbook for
the Classroom, London: Cassell Education Ltd.

Reilgelluth, C.M. (1983), Instructional Design Theoris and Models. New Jersey: Lawrence
Erlbaum Associates.

Smith, R.M. (1982). Learning How to Learn: Applied Theory for Adults. Chicago: Follett
Pub.Co.

Sugiyono,.(2003). Statistik Nonparametris untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Kesuma
Karya.

Suparno,P. (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Tyler, R.W. (1949). Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago: The University
of Chicago Press.

Undang-undang RI No. 14. Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Unesco. (1996). Learning: The Treaure Within. Paris: Unesco.

Valli & Linda. (1994). Reflective Teacher Education: Cases and Critiques. Bulletin Reflective
Practice in Social Studies, No.88.

Zeichner, K. & Liston, .P. (1995). A Handbook for Reflective Teaching: Designed for the
New and Student Teacher. Tersedia: http://www.iloveteaching.com/ mentor/html. [30-
07-2003].

Zeichner, K. & Liston, P. (1996), Reflective Teaching: An Intro-duction. New Jersey:
Lawrence Erlbaum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar